Karena itu, segala bentuk berkat dan rahmat dari Tuhan, meskipun kecil dan sederhana, harus dipakai dan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk melayani kehidupan diri, keluarga dan orang lain. Ada banyak orang yang tampaknya susah dan malang. Tidak kelihatan dalam hidup mereka berkat dan rahmat dari Tuhan. Di sekitar kita pasti selalu ada orang miskin, sederhana, orang sakit dan berpenyakit, anak-anak tidak bisa sekolah, tidak mendapat makanan dengan menu yang semestinya, sering dilupakan, diabaikan dan dipinggirkan dari hidup bersama. Mereka tidak mendapat sapaan dan teguran, kasih dan perhatian dari orang lain. Untuk mereka-mereka ini jugalah kita mensharekan dan membagi-bagi berkat dan rahmat yang kita terima dari Tuhan.
Lebih daripada untuk kehidupan manusia, berkatt dan rahmat yang kita terima dari Tuhan harus juga kita pakai untuk memuliakan Tuhan. “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-melimpah dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya” (Ams 3: 9-10).
Bila harta kita dipakai untuk memuliakan Tuhan, harta kekayaan kita tidak berkurang, tetapi malah bertambah secara ‘melimpah-limpah’. Pertanyaannya, bagaimana kita memuliakan Tuhan dengan harta kekayaan kita? Caranya antara lain adalah dengan berdoa dan merayakan Ekarisi untuk bersyukur, dengan mengindahkan Hari-Hari Raya untuk bertemu dengan Tuhan dan sesama di dalam Gereja dan dengan memberikan derma atau intensi di dalam doa dan perayaan Ekaristi serta juga dengan membantu orang-orang lain dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat dan di dalam Gereja.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





