Berani Memeluk Diri yang Tak Indah

Akhirnya…

Jika kita benar-benar tiba pada diri sendiri, maka kita pasti akan tahu seberapa besar ‘diri kita yang tidak indah itu.’ Dan seberapa banyak pula aneka kepalsuan yang ditempel secara paksa pada diri kita pula. “Memeluk diri yang tidak indah” akhirnya membuat kita tak gencar untuk terus mengincar kekurangan dan segala ketidakhebatan orang lain.

Rekonstruksi batin personal membuat kita tertunduk untuk satu kerkah jiwa. Untuk tidak lagi ‘kibarkan bendera kehebatan diri sambil memakai tiang kerapuhan sesama.’

Dan lagi, dunia tak boleh kekurangan sekian drastis akan kisah-kisah indah dan heroik yang mesti diwariskan. Sebab, telah terlalu liar narasi untuk saling mengunduli. Yang hanya ingin hilangkan jejak-jejak kebaikan, kebenaran dan keindahan.

Bagaimana pun, di atas segalanya, mari kita kembali mengakrabi diri sendiri. Untuk berani “memeluk diri kita sendiri yang tidak indah.” Sebab jika tidak, sekali lagi, kita hanya bermanuver sana-sini hanya untuk mencari-cari “yang tidak indah” di luar ‘kerajaan diri sendiri dan kelompok.’

Dan anehnya, mengapa kah kita tak pernah bosan untuk itu? Untuk jawabannya yang pasti tentu ada di relung hati setiap kita.

Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro – Roma.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel