Berani Memeluk Diri yang Tak Indah

Langit tidak dituduh oleh si pemungut cukai itu sebagai sumber cobaan hidup. Yang munculkan perilaku suramnya. Karenanya, ia tak sanggup menengadah ke langit. Hanya kasih dan kerahiman Langit lah yang diharapkannya agar ia bisa ‘kembali suci.’

Dan lagi, si pemungut cukai itu tak berselera untuk menantang suara menderang orang Farisi. Suara itu jelas-jelas terdengar begitu angkuhnya, “Aku juga tidak sama seperti pemungut cukai ini” (Luk 18:11). Namun, yang terbaik bagi pemungut cukai adalah ‘pulang kepada diri dan memeluk dirinya sendiri’ dalam meterai Kasih dari Langit. Ia “berani memeluk dirinya yang tak indah.”

Profetisme abal-abal

Tetapi, dalam pentas dunia yang makin garang, mungkin kah masih ditemukan jalan sejuk untuk “memeluk diri yang tidak indah?” Sebab, kumpas tuntas satu persoalan tak lebih dari sebuah penelajangan abis-abisan. Ia pun jadi melebar di sana-sini. Merambang dari satu kisah ke kisah berikutnya bak cincin-cincin berantai. Tak ada alam ketenangan demi mengauptosi masalah. Demi tiba pada satu jalan keluar.

Di masa kini, dimensi profetik sering terasa dahsyat berkibar. Namun, tak jarang ia tertahan hanya sebatas pada rasa puas untuk menelanjangi kekurangan, ketakberdayaan serta kelemahan dari siapapun. Nampaknya itulah yang digemari publik. Ketika siapapun merasa sudah punya modal tebal tentang kekurangan dan kelemahan lawan. Itulah yang kini jadi ‘habitus tutur’ bahkan mengarah pada satu ‘tradisi lisan.’

‘Saling menelanjangi’ semakin jadi lumrah. Terbiasa untuk saling menista sungguh menggejolak. Dan ia memang hanya sebatas itu saja. Tak lebih. Tak kurang pula. Kita akhirnya hanya tertahan pada arena penghakiman. Atau di sisi lain, itu lah sebabnya mengapa individu jadinya dipaksa bertarung dalam satu dinamika mekanisme bela diri. Sebab ia pasti tak mau hanya ingin jadi korban dan sasaran ‘nista dan hinaan.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel