Persoalan demi persoalan tetap dihadapi. Individu bisa saja (sengaja) tetap bertanya, “Dosa siapa, ini dosa siapa? Salah siapa, ini salah siapa?” Sungguh. Kerumitan hidup jadi semakin kusut. Jangankan semua kekisruhan itu ditimpahkan pada ‘yang lain’ sebagai akar soal, bahkan nasehat yang terkesan ‘bijak nan saleh’ pun sering tiba pada keyakinan yang bukan-bukan. Ini misalnya, saat ‘Tuhan dan iblis’ dibuat jadi pasangan berkarib. Jadi dalang dari semua kekelaman.
Saling Curhat Tuhan dan Setan
Teringat lagi kisah imaginer tentang ‘saling curhat Tuhan dan setan.’ Sebab manusia itu maen tuduh-tuduh sembarang. Jika ada soal, kerumitan, suasana khaos, bencana, serta segala ‘yang tidak enak punya’ maka sekian manusia enteng berucap, “Ini semua adalah ujian Tuhan….” Dan si setan pun berkeluh, “semua soal yang dihadapi manusia, sayalah yang jadi akarnya. Sebab kata manusia: tidak tahan godaan setan. Padahal, saya tahu tempat saya itu di neraka. Dan saya ‘aman-aman saja’ di neraka.”
Tidakkah kita berperan dalam satu dua persoalan? Bukan kah kita sendiri telah masuk dalam gelap gulitanya kerumitan hidup? Jika dipahami seperti apa kebenaran akan jawabannya, maka siapapun akan kembali pulang kepada dirinya sendiri. Dan di sinilah terdapat apa yang disebut panggilan untuk “memeluk diri yang tidak indah.” Janganlah terus berkeluh pada Tuhan. Hentikan sudah tuduhan pada iblis dan bahkan pada sesama sebagai ikhwal dari segala yang bernada miring.


Berdiri jauh-jauh untuk semakin ‘dekat’
Jika mesti dipahami sebisanya, kiranya perumpamaan Yesus tentang jeritan hati si pemungut cukai di Bait Allah bisa jadi ilhamnya. Sebab kata Yesus, “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini” (Luk18:13).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






