Berani Memeluk Diri yang Tak Indah

Merindukan diri yang hilang

Dalam suasana seperti ini, sepantasnya tercipta alam di mana selalu ada ruang untuk “pulang kepada diri sendiri.” Di situ, siapapun seyogyanya dibuat berkarib dengan segala arus lalu lintas pikiran dan perasaan tentang dirinya. Dalam segalanya. Itu berarti, ia nantinya tak hanya berfokus pada apa yang jadi primadona dari segala keistimewaan diri. Tetapi bahwa selalu ada kekuatan dan keberanian untuk mengalami, mendalami dan memeluk segala yang tak indah dari dirinya sendiri.

Maka di sini, dibutuhkan rekonstruksi akan ‘diri yang tak indah.’ Rekonstruksi satu peristiwa atau kejadian buram yang jadi sorotan publik tentu berbeda dari apa yang disebut rekonstruksi batin personal. Sebab satu kisah kelam tentu keluar dari motif tertentu yang jadi gambaran dari dangkalnya daya akal budi, kacaunya emosi dan terutama lemahnya kehendak (St Thomas Aquino).

Rekonstruksi batin, sebaliknya, menuntut kejujuran, ketulusan, keterbukaan dan terutama kerendahan hati. Hanya dengan kebajikan-kebajikan seperti ini terhamparlah jalan yang mulus untuk “memeluk diri yang tidak indah.” Semuanya mengarah pasti pada satu acto penitencial: mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa…”

Pada gilirannya, kesanggupan “memeluk diri yang tidak indah” dalam jalur rekonstruksi batin adalah jalan indah untuk menuju kepada sesama dan terutama kepada Tuhan Pengasih dan Penyayang. Pada awalnya, jalan itu terblokir. Sebab kita merasa bahwa segala yang di luar diri kitalah yang jadi pemantik dan sumber dari segala kerumitan hidup.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel