Berani Bersaksi

Dari kisah ini, Rasul Paulus menjadi seorang tahanan karena memberi kesaksian tentang Tuhan. Meskipun dia menjadi seorang tahanan, namun dia sama sekali tidak takut untuk berbicara dan mewartakan kebangkitan Tuhan. Di hadapan Mahkamah Agama dia begitu berani untuk memberitakan kebangkitan Tuhan.

Memang buah pemberitaan dan pewartaannya menghasilkan ‘keributan besar’ dan bahkan ‘perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki’ sampai ‘terbagi-bagilah orang banyak itu.’ Ini adalah konsekuensi atau resiko dari setiap pewartaan. Ada yang menerima pewartaan Paulus, tetapi ada juga yang menolak pewartaannya. Meskipun demikian, Paulus tetap maju dengan berani dan gagah perkasa untuk menjalankan tugas pewartaan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.

Rasul Paulus menjadi amat berani dan tidak gentar atau takut sedikitpun, karena Tuhan sendiri meneguhkannya. Tuhan sendiri berdiri di sampingnya dan berkata: ‘Kuatkanlah hatimu!’ Melalui Roh Kudus atau dengan Roh Kudus, Tuhan sendiri memberi kekuatan dan peneguhan kepada Paulus, sehingga dia tidak takut dan gentar untuk menghadapi apa pun dan siapa pun dalam tugas pewartaannya.

Keberanian yang dimiliki oleh Paulus membuat dia tidak hanya menjadi saksi tentang kebangkitan Tuhan di Yerusalem, tetapi juga dia dipanggil dan dipercayai serta dipilih dan diutus olehTuhan untuk ‘pergi bersaksi di Roma.’

Kita Harus Berani Bersaksi

Meskipun kita tidak sampai masuk penjara seperti Rasul Paulus, namun kita harus tetap berani dan memiliki keberanian untuk mewartakan Tuhan dalam hidup kita. Kita berada di dalam lingkungan masyarakat yang majemuk atau pluralis. Di tengah lingkungan masyarakat majemuk atau pluralis, kita hanya termasuk golongan kecil atau minoritas kecil di tengah masyarakat mayoritas.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel