Perubahan Anok juga didukung oleh peran tenaga kesehatan jiwa Puskesmas Ketang. Petugas kesehatan secara rutin mengantar obat menggunakan sepeda motor serta memberikan edukasi kepada keluarga agar memastikan Anok meminum obat secara teratur. Pendekatan yang konsisten dan berbasis empati ini menumbuhkan kepercayaan keluarga dalam mendampingi proses pemulihan Anok. Ketika persediaan obat hampir habis, ayah Anok secara mandiri mendatangi Puskesmas Ketang untuk mengambil obat.
Selain pendampingan kesehatan, Yayasan Ayo Indonesia juga menerapkan pendekatan inklusif dengan mengajak Anok mengikuti berbagai pelatihan peningkatan kapasitas. Anok mengikuti seluruh rangkaian pelatihan hingga selesai. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan, kemampuan bersosialisasi, serta rasa percaya diri.
“Anok harus menjadi orang muda yang mampu menopang keluarganya dan menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan bersama di Desa Lentang. Ia harus menjadi orang yang berarti bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan orang lain,” ujar Rikardus.
Yayasan Ayo Indonesia juga memfasilitasi Anok untuk mengikuti kunjungan belajar agribisnis ke Kampung Wari Keo, Bajawa. Kunjungan ini membuka wawasan bahwa agribisnis dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan. Di sana, Anok tidak hanya belajar teknis bertani, tetapi juga melihat ketangguhan mental para petani yang mampu bertahan dan berkembang meski menghadapi keterbatasan sumber air.
Dalam proses pendampingan, staf Yayasan Ayo Indonesia juga melakukan lejong bersama orang tua Anok untuk menelusuri akar persoalan gangguan kesehatan jiwa yang dialami Anok selama sekitar tujuh tahun terakhir. Pendampingan yang dimulai sejak Februari 2025 ini melibatkan tenaga medis dari Puskesmas Anam, yakni Dokter Erlan, yang merekomendasikan agar orang tua secara konsisten menunjukkan emosi positif, memberikan dukungan, serta memotivasi setiap usaha Anok.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







