Perubahan Anok tidak terlepas dari peran besar ibunya, Kristina Wel. Ia dikenal sebagai perempuan tangguh yang setiap hari duduk berjam-jam di tempat jualannya di Pasar Sotor dalam ketidakpastian—apakah hasil kebun yang dijual akan laku atau ia harus pulang ke rumah dengan tangan kosong. Namun, dalam situasi apa pun, pemenuhan kebutuhan Anok tetap menjadi kepastian dan keharusan. Laku atau tidak laku dagangan, kebutuhan dasar anaknya harus terpenuhi.
Kesabaran Kristina, yang secara konsisten memelihara dan menampilkan emosi positif dalam suasana apa pun, menjadi “obat” yang manjur dalam proses pemulihan mental Anok. Sikap ini tercermin dari caranya menyiapkan sarapan pagi sebelum berangkat ke pasar sekitar pukul 08.00 Wita, lalu kembali ke rumah sekitar pukul 17.00 Wita. Dalam satu rumah, keluarga ini terdiri dari empat orang. Sementara itu, Stef mengelola kebun sayuran dan kebun labu di lahan miring untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi sekaligus mendukung ekonomi keluarga.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Prof. Dr. Monty P. Satiadarma, psikolog klinis dan guru besar psikologi Universitas Tarumanagara. Menurutnya, stabilitas emosi positif yang ditunjukkan oleh figur pengasuh utama—terutama ibu—memiliki dampak langsung terhadap pemulihan penyintas gangguan kesehatan jiwa. “Sikap konsisten, penuh penerimaan, dan bebas dari tekanan emosional negatif menciptakan rasa aman psikologis. Rasa aman inilah yang menjadi fondasi utama bagi tumbuhnya motivasi, tanggung jawab, dan keberanian untuk berubah,” ujarnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







