Di hari-hari ini, regim Iran tetap tanpa ampun menzalimi rakyatnya sendiri. Dan entah sampai kapan suara dan seruan penuh perlawanan itu akan berakhir? Tetapi, di hari-hari ini, sebenarnya, penguasa Iran pun lagi membiarkan ‘kematian yang pasti bagi Timnas sendiri.’ Harus kah Hajsafi dkk mesti ‘masuk gelanggang tanpa animo’ untuk ‘dimangsa tim-tim lain?’
Tetapi, tetap ada harapan bagi Timnas Iran untuk bertarung penuh sengit di laga-laga selanjutnya. Anggap saja ‘tim-tim lawan nanti sebagai unit-unit polisi moral.’ Demi membantai ‘kepicikan hati dan segala ketaatan buta pada hukum.’ Dan di situ, telihatlah temali antara spirit Sepak Bola dan Politik.
Hanya di Tanah Air Indonesia, bahwa Politik itu tampak tak mau pusing peduli dengan alam sepakbola. Lihat saja! Masih dalam duka mendalam akibat kisah sedih, suram dan seram di stadion Kanjuruan – Malang, 1 Oktober 2022, di dua hari berikutnya saja, Anis Baswedan sudah dimaklumkan jadi bakal calon Presiden junjungan Nasdem.
Bang Surya Paloh, mungkin lebih suka membaca kobaran api ambisi Anis Baswedan, ‘yang memang sudah tercium rasa Presiden sejak masih sebagai 01 DKI Jakarta,’ ketimbang mesti berurusan rasa hati dengan mayoritas alam sedih dari Kanjuruan.

Tapi kata teman saya di suatu percakapan, “Itu tak benar!” Di tanah air, sepak bola tetap ada hubungan dengan politik. Setidaknya dengan sebentuk bangunan megah yang namanya ‘Jakarta International Stadium’ (JIS). “Untuk sementara ini, memang JIS itu belum jadi jalan tol menuju prestasi. Sebab, ia masih terblok sementara oleh pencitraan,” begitu katanya. Entahlah…
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





