Cepat, Lugas dan Berimbang

Antara Amini – Hajsafi – Anis Baswedan dan Piala Dunia Qatar 2022

Rambut, hijab, hukum dan polisi moral ‘sudah keterlaluan’. Telah jadi orkestrasi maut untuk korbankan satu nyawa. Hilang sia-sia. Yang sungguh direndahkan nilainya. Hanya demi berkiblat pada hukum buatan manusia belaka.

Mungkinkah kekalahan Timnas Iran versus Belanda itu adalah sebentuk compassionate pada Amini dan demi ratusan korban lainnya? Sebab, layak kah mereka ‘berpesta di Piala Dunia Qatar’ ketika mayoritas sesama rakyatnya sendiri lagi berteriak demi kebebasan dari variasi tekanan rezim? Ketika hari demi hari yang belum berujung ini korban semakin bertambah?

Suara Ehsan Hajsafi, Kapten Timnas Iran sungguh menyentuh. Ia tetap punya hati dan dukung perjuangan di jalan-jalan kota. Dan ia pun berduka akan sekian banyak korban meninggal hingga ratusan itu. Itu yang tertangkap dari Reuters. Kini, Hajsafi adalah spirit yang terbagi. Tak terfokus. Ia pasti tak konsen menuntun sepuluh rekannya di stadion. Mungkin pula untuk pertandingan-pertandingan berikutnya.

Bisa terjadi, Hajsafi dan kawan-kawan lebih terpanggil demi suara rintih penuh berontak. Jauh di negerinya, Iran. Mereka mungkin tak sedikitpun tergelora oleh suara sorak gempita seisi stadion. Ada suara para aktivis. Sepertinya mereka itu tak peduli lagi apapun hasil pertandingan Timnas Iran nantinya.

Mari, sejenak menatap para pemimpin Negeri Iran.

Tetapi, adakah hati mulia seorang Bapak Pemimpin Negeri sekelas Ayatollah Ali Khamenei andaikan ia bersuara? Bahwa sepantasnya Timnas Iran tak usalah ‘berpesta di Piala Dunia’ di dalam suasana kedukaan negeri yang tengah dialami. Artinya, “Jangan pergi pesta selagi negeri masih berduka dan khaos.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN