Hierarki Dalam Ruang Lingkup Keagamaan
Hierarki tidak hanya dikenal dalam ruang lingkup pemerintahan. Tetapi juga dalam ruang lingkup keagamaan dan budaya. Bacaan I pertama hari ini menggambarkan perlunya hierarki dalam kehidupan beragama. “Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa, kamu tidak dapat diselamatkan’. Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.” Setibanya mereka di Yerusalem, “bersidanglah rasul-rasul itu dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu” (Kis 1: 1-2.6).
Dari kisah suci ini, perkara sunat atau tidak sunat menjadi sebuah persoalan dan masalah yang menjadi pokok perdebatan antara Paulus dengan orang-orang Yudea di Antiokhia. Menurut warisan budaya turunan Musa, sunat menyelamatkan. Dalam warisan budaya ini, orang selamat dan diselamatkan bila orang menerima dan melakukan sunat. Akan tetapi menurut Paulus dan Barnabas, manusia selamat dan diselamatkan bukan karena sunat, tetapi karena iman dan kepercayaan akan Tuhan dan Injil-Nya. “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1: 16). Kepada perempuan yang disembuhkan dari sakit pendarahan, Yesus sendiri berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.’ Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu” (Mat 9: 22). Iman akan Tuhan dan Injil-Nya, dan bukan sunat, menyelamatkan manusia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




