(sekadar satu umpan lambung)
“Kebenaran itu berdiri kokoh walau tanpa dukungan publik. Sebab kebenaran itulah penopang dirinya sendiri…”
(Mahatma Gandhi, 1869 – 1948)
P. Kons Beo, SVD
Saya memang punya satu kisah licik di tempo hari. Itu terjadi di sekian puluh tahun silam. Di saat masih berusia bocil. Iya, di umur-umur SD lah. Kisah licik itu terakit saat bermain bersama teman-teman sebaya. Lokus kisah itu di Asrama Polisi (Aspol) Komres 1521 Ende – NTT saat itu. Maklum, saya terbilang bagian dari anak-anak kolong. Kami memang anak-anak tangsi.
Begini kisahnya: Sebagai anak, kami punya banyak jenis permainan bersama. Di antaranya ‘maen wayang.’ Begitulah itu disebut. Setiap kali bermain wayang yang dilempar ke udara bersama teman-teman, setelah wayang-wayang itu jatuh ke tanah, selalu saja wayang milik saya, sisi ada gambarnya itu terlihat. Itu artinya sayalah yang jadi ‘pemenangnya.’ Menang dan selalu menang’ begitu seterusnya. Dan teman-teman sepermainan harus ‘bayar sejumlah wayang untuk saya.’ Sebab, mereka selalu kalah.
Di suatu ketika ternyata selalu dan selalu lolos menangnya saya ‘main wayang’ itu dicurigai berat oleh salah seorang teman. Koq selalu saja gambar wayang saya yang terlihat (terbuka) ketika jatuh ke tanah. Rahasia pun terbongkar. Yang ditemukan teman saya adalah bahwa ada dua wayang dengan gambar serupa yang dilekatkan jadi satu dengan lem. Makanya, setiap kali lemparan dan jatuh, selalu terlihat gambar itu. Karenanya saya ‘tidak pernah kalah.’ Dan memang tak mungkin kalah….
Maka meluaplah amarah teman-teman sepermainan saya itu. Kepala saya ‘diketok rame-rame.’ Dan tak hanya itu, bahkan semua wayang saya diambil paksa. Mereka sungguh merasa dicurangi dan dirugikan. Lalu saya mesti pulang rumah dalam tangis dengan cukup rasa sakit di kepala. Terus yang diperbuat?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




