Sebab itulah tak terciptalah satu pelajaran buat saya demi sebuah alam kejujuran mengapa saya dikasari. Atau kepada teman-teman untuk berani mengatakan yang sesungguhnya ‘apa sebenarnya sebab di balik tindakan mereka terhadap saya.
Di perbagai kisah dalam keseharian, kebenaran dan kejujuran itu bisa digoyang dan diayun-ayun dengan segala upayanya. Seorang anak dalam keluarga bisa dipuji orangtua sebagai anak yang baik dan membawa keberuntungan. Sebabnya? Di suatu hari anak pulang membawa seikat kayu bakar, yang sebenarnya adalah pagar kayu yang kelilingi kebun orang yang dicurinya.
Untuk satu perhelatan pesta akbar orang bisa saja galang dana dari sana-sini. Dapat kucuran bantuan dana dari situ dan dari mana-mana. Sayangnya, bila pestanya berlangsung dalam aliran dana yang ugal-ugalan dan penuh zig-zagnya. Repotnya bila tak ada kesempatan untuk ‘apa adanya.’
Di arena luar dari perhelatan pesta, publik hanya punya selentingan kata-kata tempias: “Enak betul ya, makan-minum besar di pesta! Ujung-ujungnya tinggal sewa jasa orang-orang yang trampil untuk cuci piring hingga bereskan tuntas arena pestanya…….Dan mesti diusahakan untuk hilangkan jejak bahwa telah terjadi hajatan yang debet-kreditnya sudah terkesan sekian rumitnya.
Ada-ada saja na..
Verbo Dei Amorem Spiranti
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




