Segera ‘lapor orangtua.’ Bahwa “Dapat ketok dari teman-teman yang kasar.” Tak diterima saya diperlakukan demikian, orangtua segera ‘pigi ngamok dan marah-marah sama teman-temanku itu.’ Reaksi orangtua seperti itu bikin saya rasa ‘di atas angin.’
Rasa diteguhkan sebab sudah dibela orangtua. Apalagi orangtua saat itu ‘memang punya tingkat kepangkatan lumayan di level Komres’ dan punya jabatan lagi. Inilah yang namanya ‘mentang-mentang…’ Rasa besar kepala sudah jadi milik saya.
Padahal? Nyata-nyatanya sayalah yang telah bertindak curang. Iya, itu tadi, sebab telah sekian licik akali teman-teman. Wayang-wayang mereka telah diraup jadi milik saya dengan ‘teknik permainan akal bulus itu.’ Telah maen kerè (curang), demi gendutkan tas kresek dengan wayang-wayang hasil kelicikan itu.
Orangtua tak pada tanya, “Kau salah apa maka kena ketok dari teman-teman?’ Tidak! Orangtua yang segera bereaksi itulah yang sudah buat saya sudah ‘besar kepala.’ Teman-teman jadi pada ‘muka pucat dan diam tapaku’ gara-gara dihardik oleh orangtua. Tambah lagi mereka dapat cubit dari orangtua mereka sendiri. Sebab mereka telah ‘ketok kepala dan bikin menangis’ anak komandan.
Mari kita tinggalkan dulu ‘rasa besar kepala’ milik saya itu. Toh, itu sudah terjadi nyaris 50 tahun lebih yang silam…
Di keseharian, kisah ‘rasa besar kepala’ bisa menjamur. Dan itu jamak terjadi. Siapapun bisa punya ‘siapa-siapa’ demi rasa aman, rasa terlindungi, rasa terjamin, bisa dimaklumi atau dibenarkan. Iya, individu ‘rasa aman dan di atas angin’ sebab individu itu punya orang kuat. Ada orang dalam, atau punya orang ahli atau pakar.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




