Repotnya sekiranya walau si individu de facto salah, oleh orang pintar, si individu itu de iure bisa dijamin untuk bisa dibenarkan atau diuntungkan. Atau pun sebaliknya, yang jelas-jelas benar, oleh ‘kepakaran seorang ahli’ (atau merasa diri ahli), yang benar itu bisa dinyatakan bersalah dan kalah. Atau setidak-tidaknya opini tendensius bisa dikaroseri dan digiring agar ‘diamini’ publik untuk dibenarkan.
Mungkin ini bisa diumpamakan dengan kisah imajiner yang sudah kelewat tenar itu. Yang jelas-jelas telah mencuri sapi, oleh para pakar, bisa dijelaskan dengan segala dalil teknis yuridis bahwa ‘yang diduga dan dituduh mencuri sapi sebenarnya hanyalah menarik seutas tali.’ Bukan mencuri sapi. “Mungkin saja ujung tali itu kebetulan tersangkutlah hidung sapi.
“Rasa besar kepala” itu bisa fakultatifkan semua yang sesungguhnya ada pada kenyataanya dan sesuai kebenarannya. Sebabnya? Ada hal yang salah, yang suram dan seram sekalipun, pada muaranya bisa diatur, bisa dikendalikan, bisa dijelaskan, dan gampang diselesaikan. Beres!
Namun segala hal ikhwal yang coba dijelaskan dengan kendali kata-kata dan terminologia yang kedengarannya hedonistik namun rumit-rumit itu sebenarnya bagai benang kusut berbau petitio principii. Artinya? Itulah aksi ‘berargumentasi dengan pernyataan yang berbelit-belit dan berputar-putar.’
Di kisah saya yang telah silam itu, orangtua tak pada bertanya “sebab apa kau dikasari?” Atau kepada kepada teman-teman sepermainan itu, orangtua tak bertanya penuh perhatian, “ada sebab apa sebenarnya semua ini?”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




