Tentang Orang Ketiga, Kau Pilih Dia atau Ia?

Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Sajak di atas malah lebih membingungkan lagi. Kita tak pernah tahu siapa yang dibicarakan, mungkin manusia, sebab “ia” bisa “menutup pintu pagar” dan punya nama yang tercetak di “plat aluminium”, tapi bisa juga anjing, kan? Anjing bisa membuka-tutup pagar, anjing juga punya nama yang tertempel di plat aluminium.

Entahlah.

Nirwan Dewanto, dari sumber buku yang sama, hanya menjelaskan bahwa puisi adalah sesuatu yang tidak berisi, atau memang sengaja mengosongkan isi. “ia adalah paradoks: ia hendak mencapai kekosongan dengan kata, dengan kata-kata, yang telanjur terikat kepada arti”.

Sejak semula, kata “dia” dan “ia” memang dianggap membingungkan, hingga dulu pernah muncul usulan agar menggunakan “dia” untuk merujuk ke objek orang ketiga perempuan dan “ia” untuk obyek orang ketiga “laki-laki”. Kita beruntung, usulan aneh ini tak diterima; setidaknya tak ada orang yang menggunakan kedua kata itu untuk konteks yang sesuai dengan usulan di atas.

Bagaimana bisa kita membedakan perempuan dan laki-laki dengan “dia” dan “ia” lhawong kita saja masih kerap kesulitan membedakan “banci” dan “transpuan”!

Akhirnya, mari letakkan “ia” dan “dia” dalam tempat terbaiknya, sebagai misteri. Anda boleh menggunakan “ia” untuk merujuk objek atau subjek persona jika Anda merasa ia memang lebih dari sekadar manusia. Tentang seseorang yang bisa membuat Anda gila, misalnya. Maka dalam konteks ini, “aku mencintainya” tentu terasa lebih kuat dari sekadar “aku cinta dia”, bukan?

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel