Tentang Orang Ketiga, Kau Pilih Dia atau Ia?

Contoh: Berhentilah mengiakan mantanmu dengan menyebutnya “bajigur”!

(“mengiakan” berarti menganggap objek orang [persona] seolah benda mati; tak punya perasaan, tak ada otaknya, dll]).

Karenanya, ketika Anda sedang bergosip tentang seseorang, terutama yang sudah lama hilang karena tak sanggup bayar utang, sebaiknya Anda menggunakan “dia”, bukan “ia”.

“Aku benci dia”, bukan “aku membencinya”.

Lalu, bagaimana dengan teks-teks yang tetap menggunakan “ia” untuk merujuk persona? Seperti misalnya, yang digunakan Goenawan Mohamad di sajak “piknik” bertahun 2006 berikut:

Piknik

Untuk pikniknya yang terakhir, Tiar menyiapkan telur dadar dan sejumput merica.

Ia bangun pagi sekali. Di tempat mandi dipandangnya sumur: sebuah liang hijau, seperti lorong hutan yang memanggil.

Ia tahu ia tak hendak pergi.

Pada sajak di atas, Goenawan Mohamad menggunakan “ia” untuk merujuk “Tiar” yang sangat mungkin kita sangka sebagai persona. Sangkaan semacam ini tentu sangat beralasan.

Sebabnya, di penggalan sajak itu, ada terlalu banyak ciri yang menguatkan sangkaan bahwa Tiar adalah persona, salah duanya adalah “mandi” dan “menyiapkan telur dadar”. Makhluk jenis apa yang butuh mandi dan perlu menyiapkan telur dadar untuk piknik selain manusia?

Tetapi entahlah, mungkin Tiar memang manusia, sama seperti kita—apa pun bentuk alisnya. Hanya saja, Goenawan Mohamad ingin menggambarkannya sebagai sosok yang lebih dari sekadar persona. Atau barangkali, Tiar memang bukanlah manusia, ia hanya tokoh fiksi yang sebentar dimunculkan untuk kemudian dilenyapkan untuk selama-lamanya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel