Tentang Orang Ketiga, Kau Pilih Dia atau Ia?

Dalam Gerimis Logam, Mayat Oleander (perihal puisi Goenawan Mohamad), Nirwan Dewanto hanya menyebut Tiar sebagai penanda akan sesuatu yang lain: barangkali, tentang piknik yang tak akan bisa kita lihat lagi. Sebab ini adalah “piknik terakhir Tiar”.

Kita bahkan tak tahu piknik-piknik lain yang dilakukan Tiar; tiba-tiba saja kita sampai—atau diajak sampai—pada piknik yang terakhir. Satu-satunya hal yang kita tahu tentang Tiar dalam puisi tersebut adalah bahwa ia terpaksa pergi, entah ke mana. Kita bisa melihatnya dari tutur sang pencerita, “Ia tahu ia tak hendak pergi” namun tetap saja ia “menyiapkan telur dadar dan sejumput merica”.

Bisa jadi, “ia” di sajak di atas memang tidak dimaksudkan untuk merujuk pada objek persona; sebab Tiar bukan manusia; entah karena ia lebih dari sekadar manusia, atau karena ia bahkan tak layak untuk disamakan dengan manusia. Manusia jenis apa si Tiar itu, kok hanya muncul saat piknik sudah akan berakhir?

“ia” ternyata juga digunakan oleh Sapardi Djoko Damono saat bertutur “Kisah” yang tertuang dalam Perahu Kertas: Kumpulan Sajak (1982) berikut:

Kisah

Kau pergi sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat aluminium itu.

Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.

Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.

Hari ini seseorang yang mirip denganmu tampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu.

Ia bersihkan lumut dari plat nama itu, lalu dibacanya namamu nyaring-nyaring.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel