Tetapi, ketahuilah bahwa pertautan relasi yang sungguh atas dasar Kasih, tidak begitu saja dipahami sebagai ‘saya bebas lakukan apa saja tanpa koreksi sesama.’ Justru sebaliknya kebersamaan yang sehat dan benar tentu dipilari rasa tanggungjawab dalam correctio fraterna. Sebab?
Kita bukanlah ‘siapa-siapa di atas segalanya.’ Yang selalu hanya rasa diri: benar, lurus, beretika, dan sekian banyak citra atau penilaian plus lainnya. Dan karenanya sesama yang lain selalu ada di dalam bayangan genggaman ‘suka-sukanya’ kita. Tak seperti itulah!
Bagaimana pun setiap kita miliki sisi diri yang tak menarik, iya tak eloklah. Tetapi, syukurlah dalam kebersaman atau perelasian penuh sportif, tetap ada sesama yang tampil elegan untuk ‘meluruskan dan memanggil kita untuk kembali pulang pada yang semestinya.’ Tentu, dengan caranya yang penuh jempolan berdaya penuh simpatik.
Tetapi, mari telisik di sisi lainnya. Animo untuk hidup dalam Kasih tak jarang terusik oleh virus berbahaya dari ‘rasa benci, amarah dan tak suka.’ Dari situlah kita sepertinya dipaksa masuk dalam suasana suram akibat aura negatif yang tak sedap itu dari kaum penuh benci. Bersiap diri dan hatilah bahwa kita segera didaulat sebagai persona non grata (insan yang tak layak), yang tak dapatkan ruang kosong dalam hati sesama.
Disinyalir, setidaknya, terdapat beberapa “Bahasa Tubuh Seseorang saat benci dengan kamu….” (Raihan Maulana, time news.co.id). Ketidakpedulian akan kehadiranmu, akan kata-katamu, akan pikiran dan perasaanmu dengan ekspresi ‘cuek malas tahu,’ tanpa sapaan, itulah tanda hati tak suka tengah terarah padamu. Bahkan pribadi yang tak suka itu sekian berbangga dengan berkisah kepada yang lain, “Tadi tu saya ketemu dia; jangan harap kalo saya mo tegur dia; manusia model begitu tu saya tidak anggap memang!” Pengabaian kepada ‘yang tak disukai’ adalah ungkapan kepuasan hati, walau itu nyata-nyata tanda kekerdilan jiwa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





