Ssssst, Apa Ada yang Memang Tak Suka Denganmu?

(sekadar perenungan tentang relasi yang tak konek)

P. Kons Beo, SVD.

“Banyak orang datang dan pergi dalam kehidupan kita, tetapi hanya sahabat sejati yang meninggalkan jejak di hati”
(Anna Eleanor Roosevelt, Istri Presiden Amerika Serikat Franklin D Roosevelt, 1884 – 1962)

infopertama.com – Nampaknya sepele, namun sebenarnya mendasar. Ini soal pertautan relasi kita dengan sesama. Inilah kenyataan yang tak dapat dielakkan oleh siapapun kita. Manusia itu ‘makhluk sosial yang berkawan, yang berkumpul dan ada bersama.’ Dalam semuanya itu, setiap kita dapat temukan citra atau identitas diri kita.
“Aku ada karena engkau ada” isyaratkan betapa ‘kedirian setiap kita amatlah dipilari oleh keberadaan sesama-sesama yang lain.’ Lalu?

Tak ada hal yang indah selain bahwa setiap kita belajar apa artinya menjalin relasi yang sehat dengan sesama. Artinya? Dalami saja getaran rasa di hati saat kita alami sukacita. Kita tetap menjadi ‘manusia spontan’ sebagaimana adanya kita. Tak ada kesulitan yang berarti untuk kemampuan beradaptasi. Di dalam ‘alam bersama yang lain itu kita merasa seperti di rumah kita sendiri.’

Di titik selanjutnya? Demikianpun seperti itulah yang dialami oleh sesama-sesama kita. Maka, dengan segera suasana keakraban tertata di dalam animo kekeluargaan. Komunio atau persekutuan seperti itulah yang tetap diusahakan oleh setiap kita dalam kebersamaan atau di dalam pertautan relasi dengan yang lain.

Setiap kita memiliki kekayaan diri yang dapat dipersembahkan kepada sesama dan demi kebersamaan. Demikianpun, bahwa kita dapat menerima dan mengalami kebaikan sesama. Suasana kebersamaan dalam saling menerima penuh akrab, secara terbalik, dapat terasa dalam ‘ketidakhadiran.’ Rasa saling rindu akan kehadiran sesama (kebersamaan) adalah tanda bahwa telah jadi teduh hati kita di dalam kebersamaan. Itu pula yang dialami sesama yang sungguh merindukan kehadiran kita.

Tetapi, ketahuilah bahwa pertautan relasi yang sungguh atas dasar Kasih, tidak begitu saja dipahami sebagai ‘saya bebas lakukan apa saja tanpa koreksi sesama.’ Justru sebaliknya kebersamaan yang sehat dan benar tentu dipilari rasa tanggungjawab dalam correctio fraterna. Sebab?

Kita bukanlah ‘siapa-siapa di atas segalanya.’ Yang selalu hanya rasa diri: benar, lurus, beretika, dan sekian banyak citra atau penilaian plus lainnya. Dan karenanya sesama yang lain selalu ada di dalam bayangan genggaman ‘suka-sukanya’ kita. Tak seperti itulah!

Bagaimana pun setiap kita miliki sisi diri yang tak menarik, iya tak eloklah. Tetapi, syukurlah dalam kebersaman atau perelasian penuh sportif, tetap ada sesama yang tampil elegan untuk ‘meluruskan dan memanggil kita untuk kembali pulang pada yang semestinya.’ Tentu, dengan caranya yang penuh jempolan berdaya penuh simpatik.

Tetapi, mari telisik di sisi lainnya. Animo untuk hidup dalam Kasih tak jarang terusik oleh virus berbahaya dari ‘rasa benci, amarah dan tak suka.’ Dari situlah kita sepertinya dipaksa masuk dalam suasana suram akibat aura negatif yang tak sedap itu dari kaum penuh benci. Bersiap diri dan hatilah bahwa kita segera didaulat sebagai persona non grata (insan yang tak layak), yang tak dapatkan ruang kosong dalam hati sesama.

Disinyalir, setidaknya, terdapat beberapa “Bahasa Tubuh Seseorang saat benci dengan kamu….” (Raihan Maulana, time news.co.id). Ketidakpedulian akan kehadiranmu, akan kata-katamu, akan pikiran dan perasaanmu dengan ekspresi ‘cuek malas tahu,’ tanpa sapaan, itulah tanda hati tak suka tengah terarah padamu. Bahkan pribadi yang tak suka itu sekian berbangga dengan berkisah kepada yang lain, “Tadi tu saya ketemu dia; jangan harap kalo saya mo tegur dia; manusia model begitu tu saya tidak anggap memang!” Pengabaian kepada ‘yang tak disukai’ adalah ungkapan kepuasan hati, walau itu nyata-nyata tanda kekerdilan jiwa.

Yang lagi membenci itu selalu trampil untuk dapatkan bahan atau modal kritik dan gesit mencari kesempatan untuk mengkritik yang dibenci sejadi-jadinya. Maka, ‘bersiaplah hati untuk alami diri sebagai nara pidana yang selalu salah dan haram di mata pembenci’. Apapun yang baik Anda lakukan, di mata pembenci segalanya tetaplah kelam.

Bila ada yang tak harum semerbak dalam kesalahan yang Anda lakukan, maka rasa benci dan tak suka terdapmu bisa semakin menggumpal. Dan bahkan mungkin ‘semakin dibesar-besarkan lagi.’ Dan di situlah modal telak dan kesempatan empuk untuk menghempaskanmu.

Ada lagi ‘sikap dan raut wajah’ yang nyata terbaca ‘tak suka memang!’ Katanya, di situ ‘tak ada kontak mata.’ Atau bila berkontak, maka aura mata menantang penuh pelototan, dan bukannya aura mata berkaca-kaca sinar berbinar. Ketaksukaan memang telah meredupkan sinar mata dalam memandang sesama yang tak disukai. Selanjutnya?

Kata Maulana, “Saat dia di depan kita, orang yang benci kita akan bersikap baik dan seolah tidak ada apa-apa. Tetapi ketika di belakang, ia akan memperlakukan kamu dengan sangat buruk. Tak jarang, orang yang membenci kamu juga membicarakan kamu yang tidak-tidak ke orang lain bahkan ke orang yang kamu kenal. Orang yang tak tulus akan sangat terlihat dari sikap dia yang manis dari luar tapi di dalam begitu buruk.” Sebab yang lagi membenci pastilah ‘lentur lidah dan lincah bibir’ untuk berpidato atau pun berbisik-bisik tentang ketidakhebatanmu…

Selanjutnya, yang lagi membenci sudah pasti akan ‘menjaga jarak yang terukur dan semakin serius.’ Di hari-hari silam, pernah ada hati yang terbuka dan penuh akrab. Kirim kabar dan ‘just to say hallo’ adalah keseringan bahkan keharusan. Namun semua, kini, hilanglah sudah tersapu tsunami hati tak suka penuh benci. Terhadap kita, si tak suka itu segera menjadi pribadi tertutup. Pribadi yang penuh tak suka itu sudah larut serius dalam lyrik, “Jangan datang atau titip salam…..”

Yakinlah bahwa dalam kebersamaan antar kita manusia selalu ada beda rasa bahkan ada tarung rasa. Dan hal itu bisa berbuntut ‘rasa tak suka, sikap amarah dan bahkan penuh benci. Tetapi harus kah kita tetap terpanggang dalam suasana panas membara penuh benci dan tak sukanya?

Nasihat agung selalu ingatkan kita: Caci maki tak boleh dibalas dengan caci maki, berdoalah bagi yang memusuhi, membenci dan menganiaya kalian. Segera padamkan godaan agar ‘mata harus ganti mata dan gigi harus ganti gigi.’ Dunia tak pernah kekurangan manusia yang berhati baik. Yang sanggup memeluk sesamanya dalam Kasih.

Manusia beriman agung itu tak mungkin hidup teduh atas dasar kebencian, kekerasan, amarah murka, tekanan, fitnah dan iri hati. Tetapi ingatlah….

Sedikitpun engkau tak bakal tercemarkan dan menjadi najis saat engkau dibenci atau ketika ketidaksukaan tersasar padamu. Tetapi, sebaliknya, engkau pasti tercemar saat engkau sungguh membenci dan sungguh merasa tak suka terhadap sesamamu.

Renungkanlah Kata-Kata Yesus, Sang Guru Agung, “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Matius 15:11).

Verbo Dei Amorem Spiranti

Dapatkan update breaking news dan berita pilihan kami dengan mengikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV