Ia adalah gejala sosial—ketika energi generasi muda tidak tersalurkan secara sehat, sementara ruang ekspresi dan peluang hidup semakin sempit. Di balik perayaan, ada tekanan yang tidak terselesaikan.
Ketika ruang belajar alami hilang, tanah dijual, dan peluang terbatas, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi hari ini, tetapi masa depan generasi.
Ruteng kini berada di persimpangan
Pembangunan membuka peluang bagi sebagian orang, tetapi juga menyingkirkan yang lain. Pertanyaannya: untuk siapa perkembangan ini?
Jika dibiarkan, ketimpangan tidak hilang—ia hanya berubah bentuk: dari ekonomi menjadi ketimpangan akses, peluang, dan masa depan.
Karena itu, arah pembangunan perlu dikoreksi.
Pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas—melalui pelatihan keterampilan, akses permodalan yang adil, dan penciptaan lapangan kerja.
Peran pemerintah penting, tetapi tidak cukup. Gereja, NGO, dan masyarakat harus terlibat. Otoritas adat juga perlu diperkuat untuk menjaga keseimbangan nilai di tengah perubahan.
Ruteng tidak kekurangan harapan.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga keadilan sosial.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







