Pahlawan Tak Berakhir di Kuburan
Hal lain yang perlu perhatian –dan ini penting—terkait penggunaan istilah “almarhum” adalah fakta bahwa istilah ini kerap kali di-hilangkan penyebutannya dari orang-orang yang meskipun telah mati, tetapi begitu berarti bagi kita, yakni orang-orang yang kita yakini masih terus ada meski nyawa telah minggat dari raganya.
Orang-orang ini kita yakini tak mati, melainkan hanya pergi sebentar untuk kemudian membersamai kita lagi. Entah kapan, mungkin tak lama lagi.
Dalam bahasa Jawa misalnya, orang-orang yang sudah meninggal dikumpulkan di pesarean atau kuburan. Tetapi orang Jawa tak menganggap mereka sudah mati. Pesarean berasal dari kata sare yang berarti “tidur”. Karenanya, orang Jawa tetap rajin berkunjung ke pesarean untuk saling ‘bertukar kabar’. Mereka datang bersama anggota keluarga yang tersisa, membersihkan area pesarean, membacakan doa, beberapa orang juga masih menyirami pekuburan itu dengan air, sementara di rumah, orang-orang Jawa masih menyediakan makanan dan minuman kesukaan sang mendiang yang disuguhkan di hari kematian mereka, entah untuk tujuan apa. Yang jelas, orang-orang yang begitu berarti tak pernah dianggap mati.
Demikian pula dengan pahlawan, mereka tak pernah dianggap mati. Coba lihat, orang-orang enteng saja menyebut nama-nama seperti Sukarno, Bung Hatta, Gus Dur, dst. tanpa merasa perlu menyematkan “almarhum” di depannya. Orang-orang ini tak pernah dianggap mati. Para pahlawan itu tak berakhir di kuburan.
Jika Anda punya pahlawan, atau orang-orang yang Anda anggap begitu berarti, cukup sebut namanya. Gelar “almarhum” bukan untuk mereka.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel


