Oleh : Khoirul Anam
infopertama.com – Jika Anda pernah tinggal atau sekadar singgah sebentar di Yogyakarta, Anda tentu tak asing dengan panggilan “masnya” dan “mbaknya”. Sesungguhnya, “masnya” dan “mbaknya” ini berarti “mas” dan “mbak” saja (kakak); imbuhan –nya pada kedua kata tersebut tak memiliki arti khusus.
Meski begitu, bukan berarti imbuhan tersebut tak layak untuk dibahas. Oh tidak! Tulisan ini justru akan melakukannya, sekalian membuktikan bahwa Yogya tak hanya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan, tetapi juga –nya yang tak pernah ketinggalan.
Tidak percaya? Monggo baca saja tulisan ini, masnya dan mbaknya.
Secara bahasa, penggunaan imbuhan –nya untuk menyatakan keterangan milik. Contoh, “Ia dulu adalah pacarnya, lalu jadi mantannya dan menikah dengan teman baiknya”.
Tak usah Anda pikirkan nasib si malang yang ditinggal menikah oleh sang mantan. Fokus saja pada penggunaan –nya di contoh kalimat di atas.
“Pacarnya”, “mantannya”, dan “teman baiknya” adalah kata-kata yang memiliki keterangan milik. Ketiganya adalah milik –nya; tokoh yang tak tega saya sebut namanya di tulisan ini.
Pandangan Ulama Bahasa
Tentang –nya, begini kata para ulama bahasa, “bentuk terikat yang merupakan varian pronomina persona ia/dia dan pronomina benda yang menyatakan milik, pelaku, atau penerima” (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2001). Dalam hal penggunaan, -nya adalah enklitik, yakni klitik yang terikat dengan kata depannya. Penulisannya selalu disambung; “aku miliknya”, bukan “aku milik nya”.
Mari kembali pada “masnya” dan “mbaknya”. Jika mengacu pada kesepakatan para ahli bahasa, maka “masnya” dan “mbaknya” berarti “mas” dan “mbak” (milik) seseorang. Karenanya tidak tepat jika digunakan untuk menunjuk pada orang yang sedang diajak bicara (orang pertama).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel