Masnya dan Mbaknya, Kenapa Harus Pakai -nya?

masnya
Khoirul Anam bersama masnya dan mbaknya. Foto: Dokpri

Oleh : Khoirul Anam

Jika Anda pernah tinggal atau sekadar singgah sebentar di Yogyakarta, Anda tentu tak asing dengan panggilan “masnya” dan “mbaknya”. Sesungguhnya, “masnya” dan “mbaknya” ini berarti “mas” dan “mbak” saja (kakak); imbuhan –nya pada kedua kata tersebut tak memiliki arti khusus.

Meski begitu, bukan berarti imbuhan tersebut tak layak untuk dibahas. Oh tidak! Tulisan ini justru akan melakukannya, sekalian membuktikan bahwa Yogya tak hanya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan, tetapi juga –nya yang tak pernah ketinggalan.

Tidak percaya? Monggo baca saja tulisan ini, masnya dan mbaknya.

Secara bahasa, penggunaan imbuhan –nya untuk menyatakan keterangan milik. Contoh, “Ia dulu adalah pacarnya, lalu jadi mantannya dan menikah dengan teman baiknya”.

Tak usah Anda pikirkan nasib si malang yang ditinggal menikah oleh sang mantan. Fokus saja pada penggunaan –nya di contoh kalimat di atas.

“Pacarnya”, “mantannya”, dan “teman baiknya” adalah kata-kata yang memiliki keterangan milik. Ketiganya adalah milik –nya; tokoh yang tak tega saya sebut namanya di tulisan ini. 

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV