Masnya dan Mbaknya, Kenapa Harus Pakai -nya?

Masnya
Khoirul Anam bersama masnya dan mbaknya. Foto: Dokpri

Nah, mari kembali ke “masnya” dan “mbaknya”. Apakah penggunaan keduanya sudah pasti salah? Ini yang menarik. Ilmu bahasa sepertinya tak tertarik untuk membahas soal salah atau tidak. Yang dibahas adalah soal baku atau tidak. Kata yang tidak baku tidak berarti salah. Ya, tidak baku saja.

Berbahasa itu yang baik dan asyik saja; sesuai dengan kaidah kebahasaan dan mudah dipahami. Masalahnya, biasanya akan sulit memahami penggunaan tata bahasa yang tidak baik. Misalnya, “Shaldy di kritik Yoakim!”. Saya belum pernah dengar ada daerah bernama Kritik. Apa jauh dari Cibal?

Tulisan ini sudah tayang di qureta.com

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel