Masnya dan Mbaknya, Kenapa Harus Pakai -nya?

Masnya
Khoirul Anam bersama masnya dan mbaknya. Foto: Dokpri

Salah Kaprah Nasional

Selain contoh-contoh di atas, kesalahan penggunaan –nya ternyata juga sudah menyebar luas, mulai dari MC dangdut Koplo, tulisan di media massa, hingga surat-surat resmi.

CNBC Indonesia misalnya, pada 28 Juni 2019, menayangkan berita dengan judul “Jokowi Buat ‘Google’ Data, Ribut Soal Beras Impor Kelar?”. Dalam berita itu ada penggalan kalimat berikut, “…kita memastikan data statistik itu pembina datanya ya BPS,” tegasnya.”

Ini adalah keterangan dari Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Sosial, Ekologi, dan Budaya Strategis di Kantor Staf Presiden, Yanuar Nugroho. Kata “tegasnya” yang nyempil di bagian akhir itu sungguh mengganggu. Apa maksud “tegasnya” pada kalimat itu? Ketegasannya? Penegasannya? –nya siapa pula yang dimaksud?

Penggunaan enklitik –nya pada kata “tegas” tidak tepat, sebab “tegas” adalah kata sifat; tak mungkin bisa disatukan dengan enklitik. Kecuali kata “tegas” diubah menjadi kata benda terlebih dulu, menjadi “ketegasan” –“ketegasannya.”

Jika pun begitu, “ketegasannya” bermakna “ketegasan miliknya”, bukan “ia menegaskan”. Karenanya, penggunaan “tegasnya” tidak tepat. Gunakan saja, misalnya; “kata dia”, “jelas Yanuar”, dst.

Demikian juga dengan penggunaan –nya pada banyak surat resmi, sering tidak tepat. Masih sering menemukan penutup surat resmi dengan “Atas perhatianya….”.

Penggunaan ­–nya pada kata “perhatian” tidak tepat sebab menunjuk keterangan milik orang ketiga, bukan orang yang sedang membaca surat. Agar lebih ringkas dan jelas, sebaiknya tulis saja, “Atas perhatian Anda…”. Tak usah lagi merahasiakan milik siapa perhatian ini diberikan, oh!

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel