Oleh Khoirul Anam
Pucuk Ramadan tahun ini sudah mulai terlihat batang hidungnya. Hanya dalam hitungan hari saja, umat Islam di seluruh dunia akan segera merayakan hari yang dinanti-nanti; yang meski untuk kali ini, hari tersebut harus dirayakan secara berbeda; semua karena korona. Hari yang dimaksud adalah hari raya atau Idulfitri. Merayakan Idulfitri.
Secara bahasa, “Idulfitri” adalah satu kata. Ia tidak ditulis terpisah dengan spasi; menjadi “Idul fitri”, tidak pula ditulis dengan tambahan huruf “h”; menjadi “Idhulfitri” atau “Idhul fitri”. Dilihat dari asal katanya, “Idulfitri” adalah lema yang merupakan serapan dari bahasa Arab “id” dan “alfitri” yang berarti “kembali” dan “suci”. Abdul Gaffar Ruskhan dalam Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia (2007) menyebut “id” sebagai subjek dengan tanda harakat u (damah), itu sebabnya “id” harus ditulis menyambung dengan “fitri” sebagai penanda makrifah: al-fitri.
Karenanya, ketika kata “Idulfitri” diserap ke dalam bahasa Indonesia, “Idul” menjadi unsur terikat yang harus melekat dengan kata sesudahnya, fitri. Maka jadilah “Idulfitri”. Ketentuan yang sama berlaku pula untuk kata “Iduladha” yang harus ditulis tanpa spasi, bukan “Idul adha”.
Aturan sederhana tentang penulisan “Idulfitri” ini nyatanya kerap diabaikan, salah satu sebabnya adalah faktor kebiasaan. Kebanyakan orang Indonesia menulis kata “Idulfitri” menggunakan spasi. Hal ini kemungkinan besar disandarkan pada model pengucapan; yang membutuhkan jeda di antara “Idul” dan “fitri”, sehingga muncul kecenderungan untuk menunjukkan jeda tersebut melalui penggunaan spasi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel


