Merayakan Idulfitri Tanpa Spasi

Merayakan Idulfitri

Aturan soal penulisan kata yang terdiri dari dua unsur kata sebenarnya memang cenderung menyetujui untuk menggunakan spasi, terlebih jika kedua unsur kata tersebut masing-masing memiliki arti tersendiri, contoh: “terima kasih”, “kerja sama”, “ibu kota”, dll. Kata-kata tersebut ditulis secara terpisah lantaran masing-masing unsur katanya memiliki arti tersendiri; membuat keduanya mampu berdiri sendiri dalam kalimat.

Kata “terima kasih” misalnya, “terima” dan “kasih” memiliki arti masing-masing yang membuat keduanya sanggup berdiri di kalimat utuh, contoh: “Aku terima kasihmu meski tidak tubuhmu” atau “Dia kasih aku harapan”.

Lalu, apa yang membedakan kata gabungan ini dengan “Idulfitri”? kenapa ia harus ditulis terpisah? Sebabnya jelas, “id” termasuk ke dalam unsur terikat yang harus melekat pada kata sesudahnya. Karenanya, meskipun “id” dan “fitri” memiliki maknanya masing-masing, keduanya tak ditulis secara terpisah.

Kebiasaan lain yang tak tepat secara tata bahasa terkait penggunaan kata “Idulfitri” adalah kecenderungan untuk menggunakannya secara menumpuk dengan kata “hari raya”, misalnya mengucapkan, “selamat hari raya Idulfitri, ya!”

“Idulfitri” sudah mengandung makna hari raya atau hari besar keagamaan, karenanya tak perlu lagi menggunakan kata “hari raya”, cukup ucapkan, “Selamat Idulfitri, jangan lupa lunasi utangmu, ya.”

Mengucapkan “selamat hari raya Idulfitri” sama halnya dengan bilang “hari Senin” atau “bulan Januari”. Tanpa menggunakan kata “hari” sekalipun, kita sudah paham bahwa “Senin” adalah nama hari, begitu pula dengan kata “bulan” sebelum kata “Januari”.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel