Lotim, infopertama.com – Kasus rudapaksa terjadi di Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Santriwati berinisial AD (17) dirudapaksa oleh pimpinan pondok pesantren (ponpes) berinisial LM (40).
AD menceritakan modus rudapaksa yang dilakukan LM. Ia mengatakan bahwa LM membawa-bawa agama disertai ancaman yang membuatnya ketakutan.
“Saya diminta bersedia (melayani), maka dijanjikan surga, jika tidak saya dan keluarga diancam akan disiksa di akhirat, saya takut, saya tak berdaya,” kata AD, Senin (8/5/2023).
Lakukan lebih dari 5 kali
AD mengatakan, mulanya dia belajar dengan lancar di pondok pesantren yang dipimpin LM. Tak ada kejadian mencurigakan yang dia alami.
Namun, pada 2022 AD mengaku didatangi oleh kakak tingkatnya. Sang kakak tingkat memintanya mempersiapkan diri menyambut dan melayani pimpinan pondok yang mereka panggil dengan sebutan Mamiq (Bapak).
AD diminta untuk ‘menyerahkan’ dirinya.
Ketika jam belajar selesai, AD mengaku dipanggil ke ruang laboratorium ponpes. Di sana dia bertemu dengan LM.
“Dia (LM) hanya memberi isyarat dan saya disuruh melayani layaknya suami istri, hati saya hancur dan tak berani berbuat apa-apa,” kata AD.
Lebih-lebih, LM terus membujuk dengan membawa-bawa agama. Dia mengatakan ajaran yang bohong bahwa hal tersebut adalah perintah nabi.
Menurut AD, dirinya diperkosa lebih dari lima kali di ruang laboratorium sekolah yang sepi.
13 kawannya dikeluarkan dari pondok
AD mengatakan, 13 temannya bahkan dikeluarkan dari pondok lantaran menolak melayani LM. Kebijakan itu dengan mudah diambil oleh LM karena dia adalah pimpinan pondok.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






