Tetapi, siapakah elit politik yang ‘mau rugi atau bahkan mati konyol’ sekiranya ia tak cerdas dan tak arif politik dalam konteks tanah Ende-Lio? Yakinlah, elit-elit politik Ende kini mulai melenting ke sana sini demi memantau situasi atau bahkan kibaskan suasana panas. Dan terlebih lagi tentu hendak mainkan strategi politiknya. Intinya, iya itu tadi, orang tak hendak rugi atau meleset jauh dari segala kepentingannya.
Intinya kini, paslon lagi ditata dan berikutnya strategi pemenangan segera diracik. Demi kemenangan, dan demi ‘amankan kepentingan,’ maka tim-tim sukses, atas nama Partai atau kelompok identitas tertentu, mulai siap bersemi. Adalah sangat mungkin bahwa strategi atau kiat-kiat seram dan suram bakal dimainkan.
Maka di titik inilah suara bijak Ketua Bawaslu Ende, Basilius Wena, jadi pusat perhatian. Media Sosial yang tak disikapi benar dan bijak bisa jadi medium untuk ‘baku habok dan baku bantai’ yang amat tak elok antara pengusung dan pemilih. Ende-Lio yang amatlah majemuk dalam komposisi masyarakatnya bisa menjadi ‘ladang rumput kering untuk mudah terbakar.’
Tetapi, bagaimana pun, jika mesti ‘apa adanya pada kenyataan,’ maka Ende masih dinilai tak tuntas dalam penanganan kasus-kasus korupsi. Katakan semisal, “Ende Terburuk dalam Penegakan Hukum Pemberantasan Korupsi” seperti yang diyakini oleh Petrus Selestinus, Koordinator TPDI dan Pergerakan Advokat Nusantara (tribunnews.com/2024/05/17).
Dugaan publik bahwa, bagaimana mungkin elit-elit politik tertentu yang diyakini ‘terlibat dalam kasus-kasus korupsi’ kini bisa melenggang (lagi) ke kursi legislatif? Dan kini, elit-elit lainnya yang kurang lebih ‘senafas di alur yang sama’ lagi pada bersemangat untuk kursi eksekutif?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




