Sudah barang tentu urgensi swasembada energi tidak hanya sampai pada upaya menunaikan visi misi politik, tetapi lebih dari itu. Ini juga tentang nasionalisme yang hendak diejawantahkan; kemerdekaan yang ingin wujudnyatakan. Kalau kita menyimak pidato Presiden Prabowo dapat dirasakan aroma nasionalismenya yang begitu kental. Ia seolah membangkitkan semangat nasionalisme seluruh manusia Indonesia. Barangkali membangunkan kita semua dari keterlelapan kita akan eksklusifitas identitas dalam SARA (Suku Agama, Ras dan Antargolongan). Prabowo menghentak kita semua untuk selalu berani dan percaya diri menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsa dan negaranya.
Presiden ke 8 Republik Indonesia tersebut tak lupa mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dan bersama-sama membangun Indonesia; untuk mewujudnyatakan arti kemerdekaan. Terutama untuk merdeka dari kemiskinan dan kebodohan hingga penindasan dan penjajahan. Pada sektor energi, bangsa kita hingga kini masih terbelenggu oleh negara lain. Hal ini terbukti jelas pada data-data impor energi yang terus meningkat setiap tahunnya. Barang kali ini pulalah yang memicu presiden sekaligus Ketua Partai Gerindra itu menyerukan supaya mengusahakan swasembada energi.
Rasa-rasanya potensi tercapainya kemandirian energi bukanlah mimpi liar, mengingat cadangan energi pada bumi Indonesia sangatlah besar. Terutama sekali energi-energi terbarukan katakanlah geotermal yang mana 40% cadangannya di dunia ada pada bumi Indonesia. Pemanfaatan energi-energi yang ada, niscaya mampu memerdekakan bangsa Indonesia dari ketergantungan negara lain. Maka dari itu, swasembada energi pastilah menjadi suatu keniscayaan sebagaimana diungkapkan Prabowo “pemerintah yang saya pimpin nanti akan fokus untuk mencapai swasembada energi”.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






