Tersandera Budaya
Para Peserta mengaku bahwa pengeluaran untuk acara-acara tersebut sangat berat [besar] sebab saat acara berlangsung mereka ditawari untuk membeli daging, sopi dan rokok oleh penyelenggara acara. Dan, biasanya mereka sulit untuk tidak membeli. Mereka merasa tidak enak (nyaman) hati kalau tidak membeli sementara di sisi lain mereka tidak memilik cukup uang.
“Dengan pertimbangan hati (rasa), maka mereka meminjam uang sana sini dengan bunga cukup besar untuk bisa menghadiri acara pengumpulan dana tersebut.”
Maksudnya baik untuk semakin rekat relasi sosial tetapi berdampak negatif dari segi finansial bagi keluarga-keluarga.
Dari fakta-fakta ini, Rikhard menyarankan mereka untuk meningkatkan pemanfaatan aset tanah dengan mengembangan usaha hortikultura dan ternak babi. Sebab kedua usaha ini berpeluang mendapatkan pendapatan yang cukup besar, pasalnya kebutuhan pasar akan sayur-sayuran dan ternak babi cukup tinggi. Hak ini terbukti sayur-sayuran kita masih datangkan dari luar Manggarai. Selain itu, para peserta harus menjadi anggota koperasi kredit untuk menabung uang demi masa depan keluarga. Dan, bisa mendapatkan akses permodalan usaha dengan bunga rendah.
“Yayasan Ayo Indonesia punya petani dampingan yang telah berhasil menjalankan usaha sayur-sayuran dengan menerapkan pertanian terpadu antara usaha sayur-sayuran dan beternak babi/kambing. Kunci keberhasilan mereka adalah suami isteri bekerja sama dan fokus menjalankan usaha tersebut. Berharap para peserta bisa melakukan hal yang sama nanti,” ungkap Rikardus.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







