“Dalam kunjungannya ke Liang Bua, rombongan para pastor ini secara tidak sengaja menemukan bukti-bukti pecahan batu sabak dan grip (bekas peralatan anak sekolah). Serta beberapa fragmen tembikar (kereweng) dan serpih-serpih batu yang berserakan di permukaan lantai gua,” tulis Jatmiko.
“Karena merasa penasaran dan tertarik dengan temuan-temuan tersebut, Pastor Verhoeven kemudian kembali lagi ke gua ini pada tahun 1965. Dan, melakukan uji coba penggalian (test-pit).”
Hasilnya, Ia menemukan tujuh individu kerangka manusia lengkap dengan benda-benda bekal kubur. Seperti periuk, kendi, beliung, batu, manik-manik, dan perlatan dari logam. Kemudian, Penelitian situs ini berlanjut oleh Puslit Arkenas pada 1978 hingga 1989, lalu pada awal dekade 2000-an bersama lembaga internasional.
Mama Flo, Spesies Baru
Awalnya banyak yang skeptis dengan temuan di Flores ini, antara kerangka ini dari manusia dewasa, anak-anak, atau monyet, karena ukurannya yang kecil. Jawaban itu terpecahkan oleh Rokus Due Awe, seorang peneliti senior.

“…itu adalah tengkorak dan tulang belulang manusia dewasa, saya yakin 100 persen,… bahkan 200 persen,” katanya dalam tulisan Jatmiko.
Akhirnya ilmuwan menetapkan bahwa kerangka ini adalah jenis ‘spesies baru’ dalam perkembangan evolusi manusia sebagai Homo floresiensis, manusia dari flores.
Penemuan Mama Flo pada 2003 memiliki tinggi 106 sentimeter dengan volume otak sekitar 380 hingga 400 cc. Ukuran kecil ini membuat publik menjulukinya sebagai Hobbit dengan merujuk cerita fiksi karya J.R.R Tolkien Lord of The Rings, yang kebetulan triloginya tayang pada saat itu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan