Menurut Jakfar, Semua orang bisa akses digital dengan dasar kolaborasi menghasilkan pertumbuhan ekonomi-ekonomi kecil di tengah masyarakat dan produktifitas yang meningkat. Polarisasi masyarakat dalam politik tidak pernah berakhir, terus saling bully, terus saling hajar dengan perspektif kebenaran dan nilai masing-masing. Baiknya adalah dalam ranah politik, digitalisasi melahirkan namanya demokrasi gelombang ketiga atau demokrasi yang menyamping dengan dasarnya partisipasi.
“Hari ini, siapapun bisa memperlihatkan ekspresi politiknya berpartisipasi dalam banyak kebijakan-kebijakan. Dan juga, momentum-momentum politik. Saya juga mau mendorong kalau pemuda itu penggerak jaman maka pemuda itu kemudian dia tidak hanya jadi penggerak literasi digital. Tetapi, dia juga harus naik tingkatannya, tidak hanya bicara teknis literasi digital tapi juga menjadi inovator kemudian menciptakan hal-hal baru dalam digital,” terangnya.
Sementara itu, Suhjari Somar (Sekjen DPP GMNI) selaku narasumber ketiga menjelaskan fitur-fitur digital sebagai digital teks. Pada fase 2011 sampai pada fase sekarang ini adalah fase suatu potret kehidupan potret sebelumnya, bahwa kita lihat hari ini secara politik terjadi polarisasi.
Secara ideologi, menurut Suhjari yang menjadi pemicu ini muncul di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat adalah media sosial, netizen yang bergerak secara masif dan terstruktur.
“Kami sebagai organisasi GMNI kemaren sudah melakukan launching aplikasi baru dengan tujuan untuk merubah kultur besar organisasi. Aplikasi ini juga bisa melakukan donasi kita bisa langsung menyalurkan bagi korban bencana-bencana alam di berbagai daerah lewat aplikasi GMNI. Selain itu, di aplikasi GMNI ini juga memiliki perpustakaan digital untuk berbagai buku bahan ajar. Dan, ini edukasi-edukasi lakukan terus secara masif dan terstruktur. Tujuaannya agar kita mampu menjawab tantangan zaman hari ini dan juga mengubah pola administrasi kita,” tutupnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

