Tegas, tapi Tidak Keras; Jalan Tengah dalam Mendidik yang Menginsipirasi
Oleh Aji Priyo Utomo★
infopertama.com – Mendidik tak harus melukai, guru yang tegas tanpa keras menciptakan ruang belajar yang aman, adil dan bermakna bagi tumbuh kembang murid.
Di banyak sekolah, ruang Bimbingan dan Konseling masih kerap dipersepsikan sebagai “ruang sidang kecil”. Siswa dipanggil, duduk berhadapan dengan guru, lalu menerima nasihat panjang yang lebih mirip khutbah moral ketimbang dialog. Konseling, dalam praktik seperti ini, berhenti sebagai ceramah. Padahal, hakikat konseling bukanlah menggurui, melainkan menyembuhkan.
Dalam falsafah hidup orang Jawa dikenal laku ngemong: merawat, membersamai, dan menuntun tanpa memaksa. Seorang yang dituakan bukan karena suaranya paling keras, melainkan karena kemampuannya ngemong urip—mendampingi kehidupan orang lain agar tumbuh dengan selamat. Konseling sejatinya berada di wilayah itu: bukan mengendalikan, melainkan menumbuhkan.
Secara normatif, arah kebijakan pendidikan terbaru—kelanjutan Kurikulum Merdeka menuju kebijakan 2026—menekankan pembelajaran yang lebih bermakna, berpusat pada murid, dan memperhatikan kesejahteraan psikologis peserta didik. Profil Pelajar Pancasila tidak lagi dimaknai sekadar sebagai daftar karakter, melainkan sebagai keutuhan: kognitif, sosial, dan emosional. Namun dalam praktik, sekolah masih lebih sibuk mengejar rapor, asesmen, dan citra institusi. Jiwa siswa sering tertinggal di luar tabel penilaian.
Dalam sistem seperti ini, BK mudah direduksi menjadi alat penertiban. Konselor ditarik ke logika “pengamanan sekolah”, bukan “penyelamatan manusia”. Siswa datang membawa kegelisahan, pulang membawa rasa bersalah. Mereka dicari kesalahannya, bukan dipahami pergumulannya. Ini bukan semata soal individu guru BK, melainkan cermin dari sistem yang lebih suka mengontrol daripada merawat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







