Cepat, Lugas dan Berimbang

Konseling yang Menyembuhkan, Bukan Sekadar Ceramah

Konseling
Ilustrasi Ruang Konseling

Padahal regulasi tetap menempatkan BK sebagai layanan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dalam desain kebijakan terbaru, isu kesehatan mental, iklim sekolah yang aman, dan relasi guru–murid bahkan disebut sebagai bagian dari mutu pendidikan. Namun di lapangan, rasio konselor dan siswa masih timpang. Satu guru BK bisa menangani ratusan siswa. Dalam kondisi demikian, konseling mudah berubah menjadi administrasi kasus, bukan pendampingan jiwa.

Orang Jawa mengenal prinsip eling lan waspada: sadar diri dan peka pada keadaan. Kesadaran itu seharusnya dimiliki para pembuat kebijakan. Mereka perlu waspada bahwa generasi muda hari ini hidup di dunia yang jauh lebih kompleks—media sosial, tekanan prestasi, krisis identitas, dan kesepian digital. Mereka tidak membutuhkan lebih banyak ceramah moral, tetapi lebih banyak ruang aman.

Konseling yang menyembuhkan berangkat dari mendengar, bukan menghakimi. Ia dekat dengan semangat tepa selira: kemampuan menempatkan diri pada perasaan orang lain. Dalam kerangka ini, konselor hadir bukan sebagai hakim, melainkan sebagai pendamping yang membantu siswa menata ulang cara pandangnya terhadap diri dan dunia.

Namun bagaimana mungkin konseling bisa menyembuhkan jika jam BK dipersempit, peran konselor dipinggirkan, dan keberhasilan sekolah diukur dari minimnya “kasus”, bukan dari pulihnya jiwa? Di titik ini, kritik harus diarahkan pada negara: kebijakan pendidikan terlalu sibuk mengatur perilaku, tetapi lalai merawat batin.

Kita perlu menggeser paradigma: dari konseling sebagai alat disiplin menuju konseling sebagai ruang kemanusiaan. Pendidikan bukan semata mencetak kepatuhan, melainkan menumbuhkan keutuhan. Dan keutuhan, dalam kebijaksanaan Jawa, lahir ketika seseorang merasa diemong, bukan dihakimi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN