Cepat, Lugas dan Berimbang

Kiai Cabuli Santri di Pati; Relasi Kuasa dan Kerentanan Sistem Berasrama

Santri
Kiai Ashari, terduga pelaku asusila santriwati di pati. (Foto: Facebook/IlovePati)

Dampak psikologis dari kasus ini tidak berhenti pada korban. Tentu, santriwati yang mengalami kekerasan menghadapi risiko trauma serius, mulai dari kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma. Mereka tidak hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga dapat mengalami keretakan kepercayaan terhadap figur otoritas dan lingkungan sosial.

Namun, dampak yang sering luput diperhatikan adalah tekanan psikologis pada orang tua dan masyarakat. Orang tua dapat mengalami rasa bersalah karena telah mempercayakan anak pada sistem yang ternyata gagal melindungi. Muncul perasaan bahwa mereka telah “salah memilih” atau “kurang waspada”. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan berlebih, bahkan kecenderungan overprotektif dalam pengasuhan.

Lebih luas lagi, masyarakat dapat mengalami apa yang disebut sebagai collective anxiety, yaitu kecemasan bersama terhadap keamanan anak di lingkungan pendidikan. Ketika kepercayaan terganggu, keputusan-keputusan penting seperti memilih sekolah atau pesantren menjadi sarat dengan keraguan. Tidak menutup kemungkinan, hal ini akan berdampak pada menurunnya minat masyarakat terhadap pendidikan berasrama.

Jika ditelaah lebih dalam, kasus ini juga menunjukkan persoalan struktural dalam relasi kuasa. Dalam banyak pesantren, kiai tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai figur otoritas moral yang sangat dihormati. Relasi antara kiai dan santri bersifat hierarkis, dengan tuntutan kepatuhan yang tinggi dari pihak santri.

Dalam kondisi seperti ini, potensi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) menjadi nyata, terutama jika tidak disertai dengan mekanisme kontrol yang memadai. Santri, yang berada pada posisi rentan, sering kali tidak memiliki ruang aman untuk menyuarakan ketidaknyamanan atau melaporkan pelanggaran. Situasi ini dapat berkembang menjadi coercive environment, di mana korban merasa tidak memiliki pilihan selain diam.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN