Sebagai manusia Katolik Manggarai yang hidup di sekitar wilayah PLTP Ulumbu, kami merasa tidak nyaman dengan pernyataan Pater Feliks Baghi yang menganggap kami sebagai masyarakat Katolik yang gagal dan kurang iman. Secara pribadi saya sangat bingung dengan tolok ukur yang dipakai sang Imam tentang menjadi manusia Katolik yang memiliki iman kokoh. Apakah kami harus menolak PSN geothermal yang notabene telah membantu kesejahteraan kami masyarakat disekitar PLTP Ulumbu; untuk menjadi orang Katolik yang sukses dan mempunyai iman yang kuat?
Rasa-rasanya semua pihak perlu mawas diri dalam menghadapi proyek geothermal di wilayah Flores umumnya dan Poco Leok khususnya. Jargon “100% Katolik 100% Indonesia” sebagaimana digaungkan pertama kali oleh Uskup Agung Pribumi pertama di Indonesia Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ; barang kali penting untuk dilekatkan pada insan-insan nasrani. Semboyan yang mengajak umat Katolik untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak kemudian ditumpulkan oleh narasi-narasi yang kurang elok. Terutama sekali narasi yang dibungkus dengan ayat-ayat suci.
Polemik PSN geothermal Flores, terlebih lagi wilayah Poco Leok sekiranya dapat ditengahi oleh diskusi dan dialog berimbang dan intens antara seluruh pihak. Terlebih antar pihak penolak geothermal dengan segenap stakeholders proyek yakni jajaran PLN dan Pemerintah. Ataupun antara masyarakat yang mendukung dengan menolak geothermal. Menemukan solusi terbaik tidak mungkin dapat ditempuh dengan jalan searah. Kelompok penolak geothermal Flores sebaiknya membuka diri untuk intens dialog dengan pihak terkait.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











