Kalau dicermati polarisasi masyarakat yang terbentuk karena narasi mendukung dan menolak geothermal semisal di wilayah Poco Leok, sepertinya masyarakat yang mendukung dengan kelompok penolak memiliki agenda masing-masing. Lihat saja kelompok penolak yang biasanya cenderung eksklusif. Seolah-olah mereka yang paling heroik dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat. Siapa saja yang ingin berdialog dengan kelompok ini akan ditolak bahkan diusir. Padahal, keterbukaan diri dalam menyatukan pikiran sangatlah penting guna menemukan kesepakatan yang sifatnya adil dan tidak merugikan umat dan alam.
Agama sekali-kali tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk melawan negara. Agama diperbolehkan menjadi alat untuk melawan, selama itu demi kepentingan umum; umat dan alam. Bukan untuk kepentingan yang lain-lain.
Kemunculan narasi-narasi mengkhawatirkan dari para pemuka agama Katolik Flores yang menolak geothermal pada akhirnya memperkeruh suasana. Maka dari itu, sangatlah bijak jika gereja Katolik Flores untuk bersikap secara jujur dan berani. Begitu pula gereja Katolik Manggarai dalam menyikapi geothermal Poco Leok.
Dalam pada itu, sebagai insan Katolik kita patut mengapresiasi tinggi usaha dan perjuangan para pemuka agama Katolik Flores, baik yang mendukung maupun menolak geothermal. Suara para gembala memang wajib untuk didengar. Apalagi kalau suara-suara mereka sungguh-sungguh lahir atas nama kepedulian akan umat dan kelangsungan alam.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







