Mayoritas korban merupakan anak-anak sekolah yang berasal dari luar daerah dan tinggal di rumah kos. “Kami cemas setelah melihat hasil penelitian dari para suster. Karena itu, saya sangat mengapresiasi Kelurahan Rowang yang sudah mengambil sikap,” tegasnya.
Camat Gonza juga meminta para lurah di kecamatan Langke Rembong untuk menyampaikan informasi ini hingga ke tingkat RT dan mendorong kolaborasi nyata antar pihak. Ia berharap seluruh kelurahan bisa merancang program yang ramah anak sehingga mampu memberi perlindungan nyata bagi generasi muda di Manggarai.
Data dari Yayasan Susteran Gembala Baik Ruteng mencatat Lebih dari 80% siswa sekolah menengah di Ruteng merupakan anak migran, dan 61% di antaranya masih di bawah usia 18 tahun.


Penelitian Yayasan tahun 2024 terhadap 671 siswa di 5 sekolah mengungkap kondisi yang memprihatinkan. Sebanyak 60% anak migran tinggal di asrama pribadi tanpa pengaturan resmi, 20% tanpa pengawasan orang dewasa, dan 50% menempati fasilitas campuran gender tanpa keamanan memadai.
Selain itu, sebanyak 1.147 kamar sewa teridentifikasi tanpa standar pengawasan. Dari sisi kebutuhan dasar, 45% hanya makan 1–2 kali sehari, 40% tidur dalam keadaan lapar, dan 25% hidup dengan dana sangat terbatas.
Dalam aspek perlindungan, 97% mengalami satu atau lebih bentuk kekerasan, 70% kekerasan fisik, 28% kekerasan online dan 20% tidak pernah melapor karena takut atau malu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












