Tentu saja, perjalanan KBG Santo Yosep Woang masih memiliki banyak tantangan. Tidak semua pengurus dan anggota memiliki waktu serta kemampuan yang sama. Karena itu, pembagian tugas, komunikasi, dan pendampingan perlu terus diperkuat. Anak-anak dan kaum muda juga harus mendapat ruang lebih luas. Mereka bukan hanya Gereja masa depan, melainkan bagian dari Gereja hari ini yang memiliki energi, gagasan, dan kemampuan untuk ikut membangun komunitas.
Pada akhirnya, pengalaman KBG Santo Yosep Woang mengajarkan bahwa Gereja yang hidup bukan hanya Gereja yang memiliki banyak kegiatan, melainkan Gereja yang mampu membuat umatnya semakin bermartabat, mandiri, berani bersuara, dan peduli terhadap kehidupan sesamanya. Gereja tidak hanya dibangun melalui altar, tetapi juga melalui kehidupan keluarga, pekarangan rumah, pertemuan umat, solidaritas ekonomi, dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.
Iman yang bergerak membutuhkan kasih yang mau mendengarkan. Kepemimpinan yang melayani membutuhkan keberanian untuk berbagi tanggung jawab. Dan komunitas yang bersinodal membutuhkan kesediaan setiap orang untuk berjalan bersama. Inilah semangat yang terus diupayakan di KBG Santo Yosep Woang: menjadi komunitas yang tidak hanya berdoa bersama, tetapi juga bertumbuh, berbagi, dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











