Semangat ini sejalan dengan arah pembaruan pastoral dalam Sinode IV Keuskupan Ruteng, yang menekankan keterlibatan umat sebagai pelaku utama karya pastoral. Pola pelayanan ini dapat digambarkan sebagai piramida terbalik: umat diberi ruang lebih besar untuk bergerak dalam bidang pewartaan, liturgia, koinonia, dan diakonia, sementara para imam mendampingi dan membimbing. Tentu saja, tugas khas imam, terutama dalam perayaan Ekaristi dan pelayanan sakramental, tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan. Semangatnya adalah Gereja yang berjalan bersama, bukan Gereja yang hanya mengandalkan segelintir orang.
Salah satu wujud nyata iman yang bergerak adalah pelayanan diakonia. Dalam dua tahun terakhir, KBG telah melakukan sekitar sepuluh kali aksi berbagi kepada keluarga yang membutuhkan, baik anggota KBG maupun masyarakat di luar komunitas. Bantuan diberikan dalam bentuk uang dan beras. Ketika ada keluarga yang mengalami kedukaan, setiap keluarga di KBG turut memberikan sumbangan sebesar Rp20.000. Setiap hari Minggu, kaum perempuan juga mengorganisasi gerakan berbagi dan pengumpulan Gesshar (Gerakan Syukur Seribu Sehari). Saat ini, sekitar 35 kepala keluarga terlibat dalam gerakan tersebut untuk mendukung kegiatan pastoral paroki.
Pada minggu kedua Oktober 2026, umat diajak merenungkan buah-buah pemberian dengan hati yang penuh syukur dan belas kasih. Refleksi ini mengacu pada beberapa tulisan inspiratif dalam buku Mari Berbagi Menuju Perwujudan Diri Sejati yang disediakan oleh Romo Jossy. Pemberian tidak dipahami sebagai beban, melainkan sebagai ungkapan syukur, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Semangat ini juga tampak dalam pertemuan doa Rosario selama bulan Oktober, ketika umat semakin terdorong untuk memberikan persembahan secara sukarela. Anak-anak pun diajak belajar berbagi dengan menyisihkan sebagian kecil uang jajan mereka. Dengan demikian, kemurahan hati tidak hanya menjadi kebiasaan orang dewasa, tetapi juga ditanamkan sejak dini.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











