Agama? Urusan pribadi
“Entah muslimah atau beragama apa saja, itu urusan pribadi. Apalagi bila orang lain rasa diri wajib tahu sesamanya tengah berpuasa atau tidak,” lanjutnya. Ini karena pikiran spontan saya, berasal dari Iran, pasti Akra seorang muslimah. Syukurlah, Akra langsung spontan menyentak, “Kita sepantasnya tak usah omong-omong tentang agama.” Bahkan tentang Tuhan sekalipun, Akra ternyata sudah ada di titik skeptis.
Saya coba menangkap isi pikiran Akra selanjutnya. Hidup adalah soal bagaimana kita ‘mesti bertahan hidup.’ Bertahan hidup itu punya kaitan dengan apa yang kita butuhkan, bagaimana dan dari siapa? Untuk dapat makan saya mesti ke swalayan, untuk urusan kesehatan iya mesti ke apotik atau dokter. Ada sekian banyak orang yang ‘bikin saya bertahan dalam hidup.’ Dan untuk itulah mesti bekerja. Dari situ ada duit untuk bertahan hidup.
Tak ada Tuhan yang hadir nyata demi kelangsungan hidup ini. Teman-teman Akra bahkan kuatkan “Agama dan Tuhan adalah hikayat masa lalu, yang terus saja ditafsir dan diajarkan untuk membatasi gerak hidup manusia.” Mama mia! Agak terperangah juga saya. Tempat fisioterapi ini ternyata ada tebaran gagasan tentang agama dan Tuhan. Menantang memang.
Mutualisme Agama dan Negara?
Mata Akra berkaca saat disinggung nama “Mahsa Amini.” Itu nama perempuan Iran berusia 22 tahun. Ia dihukum dan ditemukan mati, 16 September 2022 lalu. Kematian yang bangkitkan gelombang protes dan demo kontra regim pemerintah Iran. Rasanya Polisi Moral dan pemuka agama telah bersimbiosis lama untuk menekan kebebasan yang sulit dimengerti di zaman penuh keterbukaan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






