Cepat, Lugas dan Berimbang

Jejak Api di Ruang Publik; Kritik atas Keangkuhan Moral

infopertama.com – Asapnya telah hilang. Tidak ada lagi kepulan yang mengganggu pandangan, tidak ada lagi bau menyengat yang memaksa orang menutup hidung. Namun bekas api itu masih jelas terlihat di meja ngopi pada kayu yang menghitam, pada serat yang retak, pada permukaan yang tak lagi utuh. Di situlah persoalan sebenarnya bermula: masyarakat sering kali mengira bahwa ketika asap menghilang, peristiwa pun selesai. Padahal jejak api adalah bukti bahwa sesuatu pernah terbakar.

Dalam ruang publik kita, pelanggaran moral kerap diperlakukan seperti asap: cukup ditiup dengan pernyataan normatif, dilapisi klarifikasi, atau ditenggelamkan oleh isu baru, maka ia dianggap sirna. Yang tersisa kerusakan kepercayaan, luka kolektif, kerapuhan etika dipaksa untuk menyesuaikan diri. Keangkuhan pun berdiri tegak, seolah-olah tidak pernah ada yang hangus.

Keangkuhan moral bukan sekadar sikap tinggi hati; ia adalah bentuk pembiasaan terhadap kesalahan. Ia bekerja secara halus: menggeser rasa bersalah menjadi narasi pembenaran, mengubah kritik menjadi serangan personal, dan menjadikan ingatan publik sebagai sesuatu yang mudah dinegosiasikan. Dalam situasi ini, pelanggaran tidak lagi dipandang sebagai kegagalan etis, melainkan sebagai risiko biasa dalam permainan kekuasaan dan citra.

Secara filosofis, ruang publik semestinya menjadi arena rasionalitas tempat argumen diuji, tindakan dipertanggungjawabkan, dan kebenaran dicari melalui dialog. Namun ketika keangkuhan mendominasi, ruang itu berubah menjadi panggung legitimasi diri. Yang paling lantang dianggap paling benar; yang paling berkuasa merasa paling kebal. Moralitas direduksi menjadi retorika, bukan praksis.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN