Dari kisah suci ini, dalam kenyataan hidup manusia selalu ada Allah yang benar, tetapi ada juga allah yang palsu. Allah yang benar adalah Allah yang hidup. Dia Seorang Pribadi yang giat dan aktif, partisipatif dan komunikatif. Dia terlibat dan bekerja dalam hidup manusia, Dia bisa berbicara dan berkomunikasi dengan manusia. Juga, Dia bisa mendengar dan menjawab manusia.
Sebaliknya allah yang palsu adalah seperti allahnya nabi-nabi baal itu. Pada allah yang palsu seperti nabi-nabi baal itu tidak ada suara dan tidak ada jawaban, tidak ada tanda dan tidak ada gerakan. allah palsu seperti itu adalah allah yang bisu atau allah yang mati. dia adalah allah yang gelap dan tinggal terus dalam kegelapan. dia adalah allah hasil rekayasa tangan manusia. ia adalah allah hasil konstruksi pemikiran manusia. allah seperti itu adalah allah hasil mimpi atau dongengan manusia.
Dalam dunia dewasa ini, bentuk-bentuk allah ciptaan manusia itu adalah harta dan materi, kekuasaan dan jabatan, popularitas dan ketenaran, prestasi dan prestise. Ketika harta dan materi, kekuasaan dan jabatan, popularitas dan ketenaran, prestasi dan prestise tidak lagi menjadi sarana, melainkan menjadi tujuan dan bahkan menjadi ‘tuan’ atas hidup manusia, pada saat itulah manusia menciptakan allah yang palsu bagi hidupnya dan dalam hidupnya.
Sebab itu, hendaklah kita memiliki pikiran yang terang dan jernih serta hati yang luas dan lapang untuk melihat dan memahami Allah yang benar dalam hidup. Allah yang benar “bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Mat 22: 32). Dia hidup dan hadir di tengah-tengah manusia. Ia tidak jauh dari manusia. tetapi Ia selalu menyertai hidup manusia. Intinya, “Allah yang hidup ada di tengah-tengah” manusia (Yos 3: 10) untuk menolong dan menyelamatkan kita. Inilah kata-kata Tuhan Yesus sendiri: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28: 20).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






