Herodes, Orang Majus dan Raja Baru Itu

(sekadar debu tipis pada kaca libido kekuasaan)
membaca Injil Matius 2:1-18

“Saya mengatakan kepada murid-murid bahwa kita mampu mendesak tanpa melakukan kekerasan, dan kita bisa berjalan ke arah demokrasi tanpa kekerasan.
Dengan cara itu, Tuhan akan merestui kita…”
(Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke 4, 1940 – 2009).

P. Kons Beo, SVD

Sadis. Benar-benar sadis teramat gila. Iblis manakah sebenarnya yang merasuki hati Herodes, penguasa Yerusalem di kala itu? Sampai-sampai bahwa ia mesti mengambil satu jalan maut? Di Betlehem dan di sekitarnya, anak-anak tak berdosa, berumur di bawah dua tahun, semuanya mesti meregang nyawa dengan pedang maut penuh kebuasan. Iya, itulah komando tragis Herodes, seturut kisah Penginjil Matius.

Bila kisah pilu itu diringkas, semula semuanya berawal dari datangnya Tiga Majus itu dari Timur ke Yerusalem. Bertiganya sepertinya ‘bikin heboh’ dengan “Bertanya-tanya: Di mana kah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?”(Matius 2:2). Satu pertanyaan yang menyentak. Bikin panik di hati Herodes dan bahkan seisi Yerusalem.

Iya, Herodes benar-benar gelisah. Dramatisasikan saja dengan ‘bahasa pasar’ untuk seorang Herodes, “Aku masih asyik-asyik berkuasa dan bertakhta, kamu tiga ini datang jauh-jauh hanya dengan berita dan tanya yang sungguh tak sedap di hati dan bikin pusing kepala saja.”

Herodes tak hilang akal pula. Sepertinya ia tampak berpura-pura kalem. Bertarung hati untuk kelihatan sejuk di hadapan Tiga Majus itu, “Pergilah dan carilah Anak itu (bukan Raja Baru) dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkan kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia” (Matius 2:8). Seolah-olah ia tak minat lagi pada kekuasaan, dan berserah hati pada Raja Baru. “Wah, yang benar saja ini….” Pura-pura berkesan tak ingin berkuasa, padahal ada berselera ‘mati punya untuk berkuasa.’

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel