Suara para Ahli Kitab tentu tak meleset. “Di Betlehem, di tanah Yudea…” (Matius 2:5). Kolaborasi penuh akal-akalan demi memperdayai Tiga Majus pun dirancang. Tapi semuanya bukanlah tanda pasrah demi ‘kekuasaan berikutnya.’ Tapi semata-mata hanya demi ‘niat kelam’ memberangus Raja Orang Yahudi yang baru dilahirkan! Dan di atas segalanya demi langgengkan kekuasaannya sendiri.
Tragedi darah dan air mata di Betlehem serta di sekitarnya adalah episode nafsu kekuasaan yang sungguh menjijikan. Tak hanya bekerja sama dengan petingg-petinggi agama, Herodes, iya itu tadi, bahkan sudah berupaya mengakali Tiga Majus itu.
Nafsu akan kuasa bahkan telah masuk dalam operasi lapangan. Ini terbaca saat ‘militer kerajaan’ (baca pasukan Keamanan Herodes) dikerahkan untuk teror keji dan maut di lapangan. Iya, semuanya ini demi meraih atau ingin tetap menggenggam kekuasaan.
Tetapi, sebenarnya hanya ada pertanyaan sederhana namun berat dalam hati kecil saja: Apakah nafsu akan kekuasaan pada Herodes, kala itu, sampai harus dengan memakai cara-cara licik dan tragis di lapangan, memangnya diketahui atau bahkan mungkin saja direstui oleh pusat Istana Imperium Romanum, Kaiser Augustus di Roma?
Yang jelas, kekuasaan di Yerusalem, yang ada di genggaman Herodes adalah kepanikan yang berujung maut dan penuh goncangan! Dan, mari kita bersikap penuh serius: Mungkin kah itulah yang juga telah terlihat gejala-gejalanya pada hari-hari belakangan ini?
Verbo Dei Amorem Spiranti
Pada Pesta Kanak-Kanak Suci – Martir
28 Desember 2023
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






