Herodes, Orang Majus dan Raja Baru Itu

Sungguh kah Herodes bakal datang untuk menyembah Dia, si Raja Baru itu? Mimpi penuh alarm ingatkan Tiga Majus untuk pulang melalui jalan lain. Iya, setelah temukan Sang Raja Baru, Tiga Majus tak pernah kembali ke Herodes. Dan dari situlah, karena merasa diperdayai, Herodes segera maklumkan perintah maut itu. Pembantaian anak-anak mungil di Betlehem dan di sekitarnya jadi tak terhindarkan. Libido dan cemas akan kekuasaan tak bisa disembunyikan Raja Herodes.

Di situlah lukisan maut Nabi Yeremia kembali teringat melalui Penginjil Matius, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Yeremia 31:15; Matius 2:18).

Ratap tangis Betlehem di kala itu, di hari-hari ini sepertinya mesti terulang, saat Benjamin Netanyahu dan Ismail Haniyeh cs, belum merendah untuk satu kata sepakat nan sejuk. Demi kuasa, kepentingan, pamor negara serta perjuangan kelompok, korban sekian banyak anak dan warga sipil tak berdosa mesti menjadi taruhan sia-sia.

Dalam Herodes, kuasa dan rasa diri mesti terus berkuasa mesti dipertahankan. Karenanya, cara apapun mesti didayakan. Sedang asyik-asyik dalam ‘mabuk kekuasaan,’ iya itu tadi, si Tiga Majus itu mesti datang dan sungguh mengusik. “Kuasa ini harus langgeng di tangan dan di jalanku,” sekiranya demikianlah Herodes bilang pada dirinya sendiri. Lalu strategi lain?

Maka, demi ambisi kekuasaan itu, Koalisi hebat dan Tim Sukses elit mesti diracik Herodes. Karenanya, Herodes ingin ‘minta petunjuk,’ keterangan dari ‘para saksi ahli,’ maka, “Dikumpulkannya semua Imam Kepala, dan semua Ahli Taurat bangsa Yahudi” (Matius 2:4).

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel