“Kita semua masing-masing memiliki keluarga, sahabat, kerabat dan kehidupan yang harus dijalani. Karena itu, pesan ini saya minta disampaikan kepada seluruh masyarakat,” ujar Bupati.
Ia menjelaskan, ketika memasuki tahap transisi menuju pemulihan, sifat kedaruratan tetap dapat dipertahankan sesuai kebutuhan penanganan. Namun, pola kerja harus mulai diarahkan untuk mendorong masyarakat kembali menjalankan kehidupannya secara mandiri.
Salah satu contoh adalah pola penyaluran logistik. Menurut Bupati, penyaluran bantuan tidak harus terus menggunakan pola yang sama seperti pada awal masa tanggap darurat.
Perubahan pola tersebut diperlukan agar bantuan tetap diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus mendorong masyarakat kembali mandiri.
“Bantuan tetap harus diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, tetapi pada saat yang sama kita harus mulai mendorong mereka untuk kembali mandiri dan memulihkan kehidupannya,” tegasnya.
Bupati mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu lama bergantung pada bantuan darurat. Hal tersebut juga sejalan dengan perhatian yang sebelumnya disampaikan Gubernur NTT.
Menurutnya, bantuan yang terus diberikan tanpa perubahan pendekatan berpotensi membuat masyarakat terbiasa menunggu bantuan dan menunda upaya untuk kembali membangun kehidupan mereka.
Karena itu, perubahan pola penanganan bukan berarti pemerintah mengurangi perhatian kepada masyarakat terdampak. Sebaliknya, perubahan tersebut merupakan bagian dari proses menuju pemulihan.
“Kalau pola kerja kita tidak berubah dan kita terus menggunakan pola yang sama seperti pada awal tanggap darurat, maka kita akan terus berada dalam situasi darurat tanpa ada langkah nyata menuju pemulihan,” katanya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel









