Di Titik Adaptasi

Tabrakan di kisah adaptasi…

Benar dan tentu benar bahwa kompetisi, iya persaingan itu, adalah cikal bakal dari perkembangan dan kemajuan. Persaingan yang sengit dan sehat dalam berbagai bidang kehidupan bakal berdampak pada perubahan. Tetapi, marilah bersikap realistis, bahwa “Tidak kah persaingan tanpa pengakuan adalah satu kekejian?” Maka di situlah penyesuaian diri (adaptasi) masuk dalam dasar rawah-rawah yang teramat labil.

Di kisah lain, tak jarang terjadi apa yang disebut ‘arus serah diri’ nan pasif pada keadaan. Di situ, adaptasi berarti, praktisnya, ‘tinggal ikuti regulasi yang ada, yang baku, kaku, yang tradisionalistik, dan yang itu sudah.’ Yang menerima apa yang telah tersedia. Di alam seperti ini, manusia sebatas sesuaikan diri pada keadaan dan tuntutan. Yang klasik tanpa selingan, apalagi jika mesti dengan improvisasi gerak dan irama hidup penuh pernak-pernik. Bahaya sudah!

Di zaman kini, di masa yang makin menderu dengan teknologi komunikasi, misalnya, manusia dipaksa masuk dalam adaptasi dunia komunikasi dan informatika. Ini belum terhitung pada sektor kehidupan lainnya, seperti misal pada dunia bisnis.

Bagaimana pun penyesuaian diri (adaptasi) sebenarnya tak memaksa sejadinya agar manusia mesti memiliki ketrampilan atau pengetahuan tentang segalanya! Tak sedemikian. Titik-titik adaptasi isyaratkan kemampuan untuk lepaskan hal-hal lama, yang usang, yang tak lagi benar. Dan, pada saat yang sama, siap berhadapan dan alami situasi hidup ngetrend terutama dalam cara berpikir dan juga tentang isi berpikir itu.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel