Diyakini, “Karena keberuntungan atau lebih sering karena kesulitan bahkan tragedi, hidup bisa tiba-tiba berubah. Tragedi menghancurkan rasa aman kita. Kehidupan yang kita kenal sirna. Iman berubah menjadi ketakutan. Jawaban menjadi pertanyaan. Dan kita berada di tempat asing tanpa peta.”
Maka di sinilah alam alienasi segera menyelimuti! Kita hanya berteman sepih dalam dan dengan ‘diri sendiri.’ Hidup bagai dalam kabut dan kegelapan. Segalanya sepertinya penuh dengan keterasingan. Lalu ke mana kah kita gerak melangkah?
Si bijak ingatkan agar perlahan untuk mendaur ulang forma dan isi kehidupan itu. Dan di situlah penyesuaian diri, iya adaptasi itu, jadi tak terhindarkan. Namun, kisah dan alam batin ini tak gampang memang….
Persoalannya?
“Ketika yang terjadi berbeda dari apa yang diharapkan, atau berubah secara drastis, orang tidak tahu bagaimana harus menyesuaikan diri terhadap situasi baru ini,” tulis Nouwen. Namun, dalam situasi seperti ini adaptasi tetap menjadi dinamika batin (interior) yang tak bisa dicegah.
Di satu titik tumpuh kehidupan yang agak lama, -dalam waktu dan kisah-, setiap kita butuhkan penyesuaian diri yang adequat dan seimbang. Ada kalanya kita tunjukan kesanggupan untuk menata sikon dan lingkungan sesuai hasrat dan impian. Tetapi, tidak kah kebanyakan kita mesti merendah untuk sesuaikan diri dengan syarat, tuntutan dan kondisi nyata?
Tetapi, persoalannya , apakah semuanya itu bakal terjadi semudah itu? Sabar dulu, Bro! Penyesuaian diri yang dibarengi tindakan yang kreatif, produktif dan inovatif seringkali berbentur sengit dalam area kompetisi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





